A Romantic Comedy Retelling of Pride and Prejudice

Kalau kamu ditolak oleh puluhan mantan (bahkan ada yang belum sempat jadi pacar) gegara perihal bias-mu gimana? Gimana juga kalau si bias ini padahal karakter yang tak nyata? Yang cuma ada di drama televisi, merasuk ke otakmu dan menghantuimu bertahun-tahun? Mendekorasi seluruh apartemenmu dengan tema si tokoh semu, marathon film nya ditiap malam minggu, sampai merelakan separuh gajimu untuk menghidupkannya di aktivitasmu. Well mungkin kamu perlu sejenak baca kisah ini untuk memutuskan mau lanjut jadi penggemar atau kembali ke dunia nyata.

BOOK REVIEW // Austenland – Shannon Hale

Ini adalah Jane Hayes, yang sangat menggilai segala hal tentang dunia Austen. Kecintaannya pada kisah romantisme Austen, membawanya ke Austenland tempat dimana di suatu tanah Inggris modern ini, yang disulap menjadi era regency.

Sumber Gambar: https://www.instagram.com/booksventura/

Judul Buku: Austenland
Author: Shannon Hale
Penerbit: Bloomsbury, Britain, 2013

Berbagai hal kocak lalu terjadi disana. Ia berperan sebagai Miss Earstwhile, diberi serangkaian panduan hidup dijaman tersebut seperti: Memakai dress lawas, bicara dengan kalimat proper, berbagai macam manner dan larangan menggunakan gadget. Kemudian tak lupa pula kehadiran tokoh2 yang mengisi hari-hari Jane. Dimulai dari perkenalannya dengan Miss Charming yang berlogat aneh, perlakuan dingin Mr. Nobley, hingga pesona si tukang kebun yang mengusiknya, Martin. Lewat cerita Jane ini, saya dibuat banyak tertawa oleh gimmick lucu nan gemas. Simak saja percakapan antara Miss Charming dan Mr. Nobley berikut ini.

“What do you think of me dress, Mr. Nobley?”

“It is very nice.”

“Do you like the fish?”

“Yes, it is a good fish.” – Page 41.

Adegan selanjutnya pun tak kalah menghibur.

“Do I have something in my eyes” This spoken while twisting toward him, her amazing bossom pressing against his shoulder.

No way Mrs. Wattlesbrook could find a corset to fit that, Jane thought.

“I … I am afraid I cannot see well in this low light,” Mr. Nobley said without really looking.

Miss Charming giggled,”You’re quite a bloke, Mr. Nobley. Rather!” – Page 42.

Bahkan babak yang seharusnya romantis pun sukses di pelintir jadi candaan seperti ini.

He briefly shut his eyes. “Miss Earstwhile, do yo…”

….

What? What? Jane wanted to yell.

“Shall we go inside?’ – Page 142.

Banyak pelajaran yang juga saya petik dari kisah ini. Bagaimana rupanya terlalu terobsesi pada satu tokoh cerita adalah hal yang mungkin terjadi di sekitar kita. Adakah kemudian hal itu berdampak pada kehidupan nyata? Apakah kita rela membuang waktu dan energi untuk jadi pemuja semu yang tak bisa move on. Ataukah kita memang perlu mengambil tindakan macam Jane Hayes, pergi ke Austenland untuk berdamai dengan fantasinya dan merelakan Mr. Darcy?

Lainnya adalah ketika Jane berkali-kali berpraduga negatif terhadap yang terjadi disekitarnya. Saya rasa ini akibat intimidasi sosial terhadap dirinya karena berbeda. Ia jadi tak percaya diri, selalu mudah men-judge hingga ia pun jadi tak bisa membedakan mana yang nyata dan akting saat di Austenland. Eh, tapi saya rasa Jane tak salah juga. Saya pun sebagai pembaca sering siwer, terjebak di adegan terlihat nyata tetapi tidak huhuhu.

Contohnya gini nih:

And then she (Jane) thought about Mr. Nobley last night. His odd outburst, his insistence on dancing with her, and then his abrupt withdrawal after one dance. He truly was exasperating. But, she considered, he irritated in a very usefull way. …..

There is no Mr. Darcy. Or more likely, Mr. Darcy would actually be a boring, pompous pinhead.

Poster Film Austenland
Sumber Gambar: IMDb

Cerita ini telah di adaptasi ke film dengan judul yang sama dengan bukunya. Dimainkan oleh Kery Russel , sukses membuatmu tertawa melihat perannya sebagai Jane Hayes. Chemistry-nya dengan Mr. Nobley pun terjalin dengan baik. Namun khas film yang diangkat melalui novel pada umumnya, banyak detail yang tidak terlalu dibahas. Semisal latar belakang Jane Hayes, dari manakah dia tahu tentang Austenland, motif sesungguhnya mengapa ia harus pergi, hingga siapakah Mr. Nobley sesungguhnya. Walau ending antara film dan buku pun cukup berbeda, satu adegan saat Jane berlatih teater dengan Nobley (JJ. Feild) tetap mampu memuaskan rasa penasaran saya dalam gambaran live action. Meskipun sejujurnya saya tak mudah menghilangkan sosoknya sebagai Henry Tilney pada Northanger Abbey. JJ.Feild yang sebelumnya terlihat sebagai bangsawan ramah pada kisah klasik ini, tiba-tiba disusupi sifat cool dan misterius ala Hero Austenland.

Baca Juga Artikel Berikut:

Kembali ke bukunya yang setebal 196 halaman, ini merupakan bacaan ringan namun padat. Penulis bisa menggiring adegan sesuai dengan porsinya. Menggunakan alur maju dengan setting tempat serta waktu yang jelas memudahkan kita untuk membayangkan cerita yangg tengah terjadi. Menariknya di tiap bab pembuka diawali dengan flashback Jane terhadap mantan-mantannya terdahulu. Keluguan Jane akan membuat kita tergelak dan develop karakternya saat di ending cukup bagus tak berlebihan. Ah ini memang cocok untukmu yang mencari Pride dan Prejudice bumbu komedi. Karena Mr. Nobley saya rasa pantas mendapat predikat sbg pesaing Mr. Darcy versi kekinian.

Leave a Reply

Close Menu
%d bloggers like this: