Mencari Kunci Jawaban Hidup Ally

Semua orang termasuk Ally, pastilah pernah dengar tentang pertanyaan pilihan ganda. Pertanyaan dengan format seperti ini lebih disukai ketimbang format lainnya. Pilihan a, b, c dan d tersebut seolah memberi peluang menang untuk kita 50-50. Kalau pun ternyata kita salah, tak perlu benar-benar kecewa karena jawaban sesungguhnya sudah ada di deretan pilihan lainnya.

Masalahnya, bagaimana jika masing-masing pilihan tersebut berpengaruh terhadap masa depan kita? Bagaimana jika pilihan lainnya yang kita tinggalkan, juga membuka jalan ke masa depan mereka masing-masing tanpa kita sadari? Bagaimana jika ada tangan besar yang mengangkat tubuh kita seolah pion, untuk menempatkan kita secara acak pada pilihan-pilihan tersebut?

Lalu yang terpenting, bagaimana cara mengakhiri itu semua?

“Aku tidak tahu kekacauan apa yang telah kau sebabkan. Kuharap tidak ada lagi orang yang punya kemampuan ini. Tidak ada yang boleh campur tangan dengan alam semesta kecuali Yang Di Atas.”

Prof. drone

BOOK REVIEW | Ally (All These Lives) – Arleen A.

Tengoklah kisah menarik Ally yang satu ini. Pertanyaan pertama untuknya hanya soal makan siang yang ada di meja. Ia mungkin hanya membatin dalam benaknya, makan siang apa yang kiranya Mama akan hidangkan sekarang? Apakah a. kue kering coklat? ataukah b. sup? Yang ia dapatkan ternyata lebih dari sekedar makan siang. Tiba-tiba saja hadir adik kecil, yang sesaat sebelumnya tidak ada, duduk di sudut meja lainnya sebagai bonus dari pilihannya tersebut.

Ally yang terus bertanya-tanya apa yang telah terjadi pada dirinya, oleh Mama kemudian dibawa ke Psikiater. Belum sempat ia menemukan apa yang salah pada dirinya, kejadian serupa muncul lagi dan kali ini memberikan luka dihatinya. Adiknya tiba-tiba saja meninggal. Dan seolah itu semua belum cukup, hidupnya bak bidak catur yang berlompatan sesukanya. Detik ini ia mungkin menghuni kotak hitam, mana tahu esoknya ia harus pindah ke kotak putih. Ia menyebut dirinya sendiri sebagai Penjelajah Dunia Paralel.

Judul Buku: Ally (All These Lives)

Author: Arleen A.

Genre: Roman Science Fiction / Drama

Jumlah: 264 hlm

ISBN: 978-602-03-0884-5

Diterbitkan oleh Gramedia, 2004

Bertualang Berpindah Dimensi

Pembuka yang menarik ini sebanding dengan jalan ceritanya. Cewek itu kemudian mencari jawaban terbaik di tengah kondisi dirinya yang aneh. Ia bertemu banyak orang, banyak pakar. Saya setuju dengan cara penulis memberikan cobaan pada Ally dalam menemukan orang yang tepat untuk mengatasi masalahnya. Sesaat saya sampai di halaman 47 dan merasa kecewa, persis seperti yang dirasakan oleh tokoh utama. Ia berpikir Prof. Drone lah orangnya, ternyata bukan. Tapi yah… ini ada benarnya juga. Tak mungkin kisah ini selesai begitu cepat meski kunci jawabannya bisa didapat begitu mudah.

“Kau memang tak berdaya. Helpless. Aku tidak tahu pasti. Teori fisika kuantum yang paling mutakhir pun belum dapat menjelaskan situasimu. Tapi satu hal yang pasti, kau bukannya tidak punya harapan. Tidak hopeless.”

– Prof. Drone, hlm 46.

Segalanya terasa lebih lunak saat sampai di halaman 59. Ally bertemu Kevin yang bisa meringankan segala urat saraf hidupnya yang penuh ketegangan. Saya tak bisa menyalahkannya jika tak bisa move on dari Kevin. Serumit apapun hidup seseorang pastilah butuh cinta di tiap pemberhentiannya. Ally bertemu Kevin saat Ketidakberadaannya yang entah ke berapa, yang membuatnya berani berharap untuk ‘tinggal’. Namun, takdirnya sebagai penjelajah dunia paralel tak memungkinkan itu terjadi. Ia lagi-lagi harus pergi di saat yang tak terduga tanpa persiapan. Meninggalkan rumahnya, keluarganya dan juga Kevin.

Sebenarnya apa keinginan penulis untuk Ally? Saya merasa ngos-ngosan memaknai takdir hidupnya yang rumit. Emosi saya naik turun. Detik yang lalu saya senang saat ia akhirnya punya kawan. Detik berikutnya saya bagai dihempas dari tebing tinggi dan diminta kembali memanjat. Saya rasanya tak setangguh itu.

Tapi tokoh utama ini memang karakter yang diciptakan untuk maju terus pantang mundur. Adegan saat cewek itu mengungsi ke Kullu untuk bertemu Guru Saatya adalah yang paling membekas dalam memori. Ally yang berada pada titik ini seakan pasrah dengan takdirnya dan hanya mencari ketenangan batin. Sialnya, kemunculan Guru Maaran justru kembali mengobrak-abrik hati saya yang sebelumnya sudah tentram.

Saya sepenuhnya ingin dia mengalah saja jika bertarung dengan garis tangan Tuhan. Namun di satu sisi keinginannya untuk ‘sembuh’ tak bisa di tolak. Lagi pula ini hidup Ally, saya pembaca berhak apa? Jika marah pun saya rasa itu bukan pilihan yang tepat. Karena pastilah dia sudah lebih dulu marah pada dirinya sendiri saat kehilangan Kevin, kekasihnya. Untuk pertama kalinya Ally bertekad ingin ‘pulang’ ke kehidupan yang lalu.

Aku memang seharusnya tidak berada di sini. Dan alam semesta akhirnya menyadari itu. Mereka sadar ada seekor semut yang salah ditempatkan…

Dan kenyataan itu membuat hatiku lebih terluka. … Kehidupan yang satu itu tidak akan pernah menjadi milikku.

– hlm 147.

Jawaban Tak Terduga Untuk Akhir Hidup Ally

Saya tak peduli pada hal lainnya selain urusan hidup Ally. Setting tempat, waktu dan lainnya sudah kacau dari sananya. Ally terus saja berpindah, dan saya terus saja menebak-nebak kemana arah semua ini akan berakhir. Banyak tokoh yang turut lalu lalang dalam hidup Ally. Meski tentu saja beberapa tokoh sudah kita kenal baik sedari awal. Saya memang merasa Ally untuk Kevin awalnya. Namun makin kesini, saya suka dengan pengembangan karakter Ally yang mulai bisa menerima dirinya sendiri. Saat itulah penulis seolah memberi hadiah untuknya. Ada James yang mampu mengisi kekosongan itu dan layak mendapat Ally dengan versi terbaiknya.

Itulah titik dimana saya bagai di hantam. Jawaban atas pertanyaan hidup Ally bukanlah kepada siapa, bukanlah dimana-mana, tapi pada dirinya sendiri. ‘Ally yang lain’. Ya Tuhan, saya ingin bertepuk tangan saking gembiranya dengan ide penulis ini. Saya tak pernah berpikir metode pemecahan masalah hidup Ally adalah lewat cara sesederhana itu. Meski sederhana, panduan inilah yang menguatkan Ally untuk berani ‘tinggal’ tanpa terus mempertanyakan ‘pulang’. Inilah yang juga memberi ia pemahaman bahwa ia tak sendiri. Bahwa ‘Ally yang lain’ pun juga sama frustasinya dengan dirinya.

Terkadang kita diangkat dari papan puzzle lalu diletakkan di papan puzzle lainnya, papan puzzle milik Ally yang lain…

Kabar baiknya adalah kepingan-kepingan itu bisa masuk juga ke papan yang baru karena kita memang bukan orang yang berbeda…

– hlm 171.

Cara ‘Ally yang lain’ meninggalkan jejak telah saya apresiasi dengan cukup baik, sehingga lebih mudah untuk bernapas lega terhadap kisah hidup Ally setelahnya. Sama seperti Ally yang tak lagi mempertanyakan statusnya, saya menerima seutuhnya rumahnya yang baru dan membawa rasa gembira itu sampai ke bab-bab selanjutnya. Jika kemudian Prof Drone datang membawa ‘obat’, itu saya anggap bonus belaka. Saya lebih terpesona pada pembawaan Ally yang semakin dewasa dan bijak. Karena jika bukan itu, lantas apalagi?

Ally dan saya sudah lelah berpindah-pindah dimensi. Setidaknya kali ini ia mampu tinggal cukup lama untuk menunaikan tugasnya. Setidaknya kali ini penulis memberinya sedikit nafas normal ditengah rutinitasnya yang terus berpindah. Setidaknya jika ia kembali ‘pergi’, ia sudah bisa melihat hal-hal positif dari takdir hidupnya yang tak biasa.

______________________________________________________________________________

Baca juga review menarik lainnya

This Post Has 2 Comments

  1. Review nya bagus kak😊

Leave a Reply

Close Menu
%d bloggers like this: