Kisah Lady Susan, Heroine yang Tak Pantas Jadi Panutan

“… betapa tidak berartinya cerita-cerita buruk tentang seseorang jika berhadapan langsung dengan kecerdasan dan tata krama yang baik dari orang tersebut.” – Lady Susan

Baca Juga Artikel Menarik Ini:

BOOK REVIEW // Lady Susan – Jane Austen

Layaknya dua sisi mata uang, sifat manusia pun ada baik dan buruknya. Itulah mengapa jika kita ingin menerima kebaikan seseorang, kita diminta berdamai dengan keburukannya pula. Berdamai disini bukan berarti mengalah. Memberikan batas toleransi selama hal tersebut tak mengganggu zona nyaman pribadi juga merupakan wujud lain dari makna berdamai tersebut.

Judul Buku: Lady Susan
Penulis: Jane Austen
Penerjemah: Dyah Agustine
Penerbit: Penerbit Qanita
Terbit: September 2016
Tebal: 126 halaman

Akan tetapi Mrs. Vernon merasa terusik. Kecantikan Lady Susan yang tersohor telah menyihir adik lelakinya, Reginald De Courcy, hingga menjadi budak cinta. Ditambah dengan rumornya sebagai wanita yang kerap menggoda para pria bangsawan, menjadikan Lady Susan sebagai sosok penuh skandal yang perlu dihindari. Surat peringatan segera ia layangkan kepada keluarga De Courcy dan dengan lembut tapi tersirat meminta ibu dan ayahnya mengawasi gerak gerik Mr. De Courcy muda. Reginald telah menjalin hubungan serius dengan wanita mengaggumkan tersebut. Di tengah polemik ini, Lady Susan justru turut memboyong Frederica, anak semata wayangnya, untuk menetap dan tinggal di kediaman keluarga Vernon. Seolah ingin menancapkan kukunya, Lady Susan mempertegas status tak terkalahkan melalui pesona anak gadisnya sendiri. Alih-alih keberatan, Mrs. Vernon justru menyukai kepribadian Frederica yang jauh bertolak belakang dengan ibunya. Ia menerima Frederica dengan tangan terbuka, dan berusaha berdamai dengan sikap buruk Lady Susan. Dengan tetap berupaya menggagalkan niat Reginald mempersunting janda menawan itu, Mrs. Vernon menangkap kesan bahwa Frederica menaruh hati pada adiknya. Haruskah Lady Susan mengalah demi cinta Frederica?

Ambilah secangkir kopi dan seruputlah sebentar. Jika dibuat versi sinetron, tampaknya akan banyak adegan zoom in zoom out dengan full face mimik jahat Lady Susan. Watak antagonis pastilah dapat porsi lebih banyak karena memang bahan dasar untuk bergunjing yang kontinu adalah mengekspos karakter negatif seseorang. Beruntung pihak luar terlebih dahulu mengambil hak cipta pembuatan film Love and Friendship dengan latar belakang novel ini. Sehingga setiap karakter dan adegan dibuat lebih masuk akal dan berimbang.

Cover film Love and Friendship, yang tayang perdana pada 2016 lalu

Misalnya, kita akan mengerti bahwa setiap orang pasti perlu melanjutkan hidup setelah ditinggal mati pasangannya. Setiap orang berhak memilih standar kehidupan yang ia inginkan. Setiap orang diminta belajar lebih giat agar punya kecerdasan diatas rata-rata dalam mengatur strategi demi mendapatkan keinginannya, karena yah, cantik dan aduhai saja tidak cukup. Semua penjelasan barusan adalah karakter yang dimiliki seorang Lady Susan. Ia ibarat dark chocolate, gigitan pertama begitu manis, disusul rasa pahit yang menambah rasa penasaran untuk mencobanya kembali. Dibandingkan dengan karakter Heroine lain milik Jane Austen, Lady Susan katakanlah yang paling liar. Janda, mata duitan, penggoda lelaki dan lupa daratan pula. Jane Austen seolah mem-blow up kehidupan seseorang yang tak patut menjadi panutan di era masyarakat saat itu.

Jane Austen menggunakan format yang berbeda dibanding dengan novel-novel karyanya yang lain. Ia memilih format penulisan berupa rangkaian surat menyurat, yang hebatnya sudah terpikirkan pada masa itu dan lantas menjadi salah satu dasar inspirasi penulisan cerita saat ini. Kita perlu perhatikan baik-baik setiap kop surat yang tertera diatas, karena jika langsung membaca inti suratnya terkadang kita lupa oleh siapa dan untuk siapa. Melalui surat menyurat ini kita dibawa masuk ke dalam hidup Lady Susan dan Keluarga Vernon. Tak seperti novel lainnya, untuk dapat mengetahui watak asli tiap tokoh perlu sedikit berimajinasi. Pengarang tidak memaparkannya secara gamblang, sehingga kita akan dibuat kebingungan dan menduga-duga karakter para aktor. Tidak ada yang sepenuhnya jahat dan baik karena setiap adegan dan perbuatan berasal dari hukum sebab akibat. Sama seperti ketika pembaca diarahkan untuk mengecam perilaku Lady Susan, sesungguhnya di sisi lain kita akan memaklumi dan merasa kasihan terhadapnya.

Lady Susan dibuat dalam bentuk graphic novel dengan ilustrasi hitam putih. Meskipun novel klasik kadangkala dirasa berat untuk dipahami, dengan adanya ilustrasi tersebut justru memudahkan kita untuk membayangkan para tokoh serta rangkaian jalan cerita di dalamnya. Keseluruhan kisah ini ia paparkan dalam novel sepanjang 126 halaman yang juga merupakan novel terpendek karangannya. Sangat cocok bagi kamu yang ingin memulai membaca klasik namun takut berhenti ditengah jalan. Tak perlu khawatir mati kebosanan, Lady Susan akan menggiringmu sampai ke akhir dengan cepat.

Leave a Reply

Close Menu