Menyingkap Kematian Lewat Pedro Paramo

Saya baru saja sampai di halaman 60, ketika menyadari tak ada kehidupan dalam buku ini. Tokoh utamanya sendiri yang dibahas sepanjang cerita, Don Pedro Paramo, telah mati sejak halaman 24. Lantas apa yang menjadikan Juan Preciado tetap bertekad menjejakkan kaki di Comala, jika tak menemukan apa yang tengah dicarinya? Pertanyaan yang sama untuk saya, mengapa tetap melanjutkan membaca meski sudah tahu jawabannya sejak awal?

“Menurutmu apa itu hidup, Justina, jika bukan dosa? Tidakkah kau mendengar? Tidakkah kau mendengar bagaimana bumi berkeriang-keriut?”

Susana San Juan

BOOK REVIEW | Pedro Paramo – Juan Rulfo

Membaca buku ini tak semudah kedengarannya. Penggalan adegan secara sengaja disusun acak bagai fragmen yang tak beraturan. Tak ada setting yang benar-benar nyata. Tak ada kisikan batas usia, tempat, waktu hingga karakter itu sendiri. Semuanya terasa abu-abu dan kitalah yang diminta untuk meng-interpretasikannya sendiri. Saya ingin menghukum tokoh jahat, ketika saya dapati Don Pedro semestinya layak untuk itu semua. Kemudian, memori kecilnya berlompatan di hadapan saya. Bahasanya demikian halus dibanding paragraf-paragraf lainnya. Tak jadilah saya mengumpat.

Judul Buku: Pedro Paramo (1955)

Author: Juan Rulfo

Pengalih Bahasa: Zaky Yamani

Jumlah: 200 hlm

ISBN: 978-602-03-6334-9

Diterbitkan oleh Gramedia, 2017

Saya terbiasa menyerap deskripsi panjang Austen, sehingga saat membaca ini sedikit kesulitan awalnya. Namun seperti yang sudah-sudah, saya harus melanjutkan membaca karena insting: Berlian selalu tersembunyi di tempat terdalam.

Teknik Penulisan Pedro Paramo Yang Tak Sembarangan

Kamu tahu dengung? Seperti itulah rasanya membaca buku ini. Belum selesai satu urusan, sudah lompat ke urusan lain. Semuanya terasa berdenyut di kepala. Juan Preciado memaparkannya sebagai gumaman. Dan gumaman itu berhasil dihidupkan lewat caranya bercerita yang fantastis. Teknik penulisan buku ini sudah dirancang sedemikian rupa, sehingga kita bisa turut merasakan suara-suara yang berdengung saling bersahutan di seputar Juan Preciado. Terlalu banyak peran dan sudut pandang lah yang menjadikan itu semua ada. Tapi jika melihat kembali genrenya, saya boleh bilang ini luar biasa. Sejak awal semua tokoh sudah mati dan dengungan tadi bagaikan balon masa lalu yang mencoba keluar ke permukaan menyampaikan kisah kelam yang terjadi di tanah mereka, Comala.

“Kota ini dipenuhi gema. Mereka seperti terperangkap di balik dinding, atau di bawah batu jalan. Ketika melangkah, kau merasa seseorang mengikutimu, menjejak di jejakmu. Kau mendengar gemerisik. Dan orang-orang tertawa. Tawa yang terdengar hampa. Dan suara-suara yang usang dimakan tahun. Kedengarannya seperti itu. Tapi aku merasa akan datang hari ketika suara-suara itu melindap.”

– Damiana, hlm 72.

Saya harus dulu merasakan hidup sebagai Eduviges Dyada (yang semula saya kira laki-laki, rupanya wanita). Lalu berubah menjadi Bapa Renteria, bersemayam cukup lama sebagai Damiana Cisneros, sesekali menonton kehidupan Miguel Paramo, berlanjut dalam tubuh Fulgor Sedano, begitu saja seterusnya hingga akhir. Jika ada titik dimana berperan sebagai Don Pedro, adalah sesuatu yang precious. Kiranya saya sudah menanti ini cukup lama ketika berlompatan menghuni raga para tokoh. Tak pernah panjang apalagi lama sebagai Don Pedro. Namun semua terasa indah, memabukkan dan memberi harapan ditengah sudut pandang yang dominan oleh pertikaian serta kematian.

Aku sedang memikirkanmu, Susana. Memikirkan bukit-bukit hijau. Memikirkan saat kita bermain layangan pada musim berangin. Kita bisa mendengar suara-suara kehidupan dari kota di bawah sana, kita berada di ketinggian bukit, memainkan benang layangan yang ditarik-tarik angin. “Bantu aku, Susana.” Dan tangan yang halus menggenggam tanganku lebih erat. “Ulurkan benang itu.”

– hlm 32.

Karya Latin Yang Menghipnotis Hingga Akhir

Ada unsur magis tersendiri saat membaca buku ini. Berbeda dengan Edgar Allan Poe yang secara gamblang memaparkan tokoh hantu, hantu-hantu pada Pedro Paramo berbicara layaknya manusia. Seringkali saya lupa jika mereka semua sudah mati. Namun kematian itu bukanlah sesuatu yang seram jika dibandingkan dengan latar permasalahan yang menjadi topik pada buku ini. Kengeriannya terdapat pada konflik-konflik kemasyarakatan yang dibangunnya. Seperti kuasa mutlak seorang Patron hingga mampu meniduri gadis-gadis di desanya secara bergantian di tiap malam. Ada pula diksi tentang perasaan suram Bapa Renteria saat menghadapi pengakuan dosa para jemaatnya, tabiat liar Miguel Paramo, serta yang tak kalah menarik terletak pada dunia kegilaan milik Susana.

Lantas bagaimana nasib Juan Preciado itu sendiri? Saya berani bilang ia hanyalah kurir. Lewat pesan terakhir ibunya, Juan terdampar di Comala. Ia semacam paranormal yang bermediasi dengan makhluk astral. Meski selepas halaman 100 tak nampak lagi batang hidung Juan, memori kita akan tertambat sepenuhnya pada Juan. Alur maju mundur pun akan mengingatkan kita bahwa ini semua berkat adanya lelaki itu. Ia kurir yang memegang peranan penting.

Saya kerap penasaran dan turut mempertanyakan apa motif Ibu Juan mengutusnya, sampai ketika saya berhenti lagi bertanya dan hanya menikmati keseluruhan cerita yang hidup ditanah mati itu. Sialnya, saat saya menemukan intinya, saya justru merasa tertampar. Tak hanya Juan, para lakon lainnya pun rupanya hanya kurir yang secara bergantian menceritakan kisah pilu ini. Kisah kematian Don Pedro menyongsong kepergian Susana, tambatan hatinya yang tak berbalas sekian lama.

______________________________________________________________________________

Baca Juga Artikel Berikut:

This Post Has 7 Comments

  1. Buku yang sangat menarik dan membuat penasaran. Meskipun alurnya maju mundur, tapi itulah keunikannya dan kepiawaian penulis dalam merangkai cerita sekaligus konflik dalam buku ini

  2. Buku ini sangat menarik dan membuat penasaran. Alur maju mundur dengan konflik yang anti-mainstream ditambah kepiawaian penulis dalam merangkai cerita membuat buku ini harus dibaca, meskipun sepertinya butuh konsentrasi dan pemahaman ekstra .

    1. iya betul, butuh suasana tenang dan konsentrasi untuk bisa menamatkan buku ini

  3. Banyak buku keren. Aduh jadi ingin memiliki semua & membacanya 😍😍😍😍

    1. iyaaa kak. lama2 ntar rak bukunya jadi ga cukup 😀

  4. Buku ini , sungguh membuat saya penasaran , lanjutannya bagiamana. Bnyk sekali buku yang termasuk genre yang saya sukai.

    1. yuk dibaca juga kak 😀

Leave a Reply

Close Menu
%d bloggers like this: