Don Tilman: Karena Pintar Saja Tidak Cukup

“..perhatikan emosi-emosimu selain logikamu. Emosi memiliki logika sendiri. Dan berusahalah untuk mengalir bersama suasana”

BOOK REVIEW // The Rosie Project – Graeme Simsion

Kadang kala kita tak bisa hanya menilai seseorang dari penampilannya saja. Dia yang selalu kita anggap teramat menarik dan pandai, justru bisa jadi sedang menyimpan rahasia besar dibaliknya. Itulah mengapa pendekatan dirasa perlu untuk dilakukan sebelum terlena hingga menjadi budak cinta. Namun sudikah kita bertindak sebagai Rosie demi mengorek sisi lain piawan cerdas mempesona macam Don Tilman?

Judul Buku: The Rosie Project
Penulis: Graeme Simsion
Penerjemah: Dharmawati
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Tahun 2015

Mari berkenalan dan cobalah resapi pikiran rumit Don Tilman. Betapa menjadi seorang Don pastilah menguras cukup banyak energi. Ibarat benda, Don mungkin ponsel pintar masa kini dengan kapasitas otak besar yang didesain mungil untuk mempermudah hidup kita. Namun dibalik segala tameng kepintaran dan kecakapannya, Ia rupanya tak cukup berempati. Sama seperti Iphone yang perlu dibekali Siri, Don adalah sekaku paradigma robot.

Cerita bermula dari seorang Profesor Don Tilman yang memutuskan ingin mempunyai Istri. Ia merasa perlu membuat suatu kuesioner ajaib, guna mengeliminasi wanita yang tidak sesuai dan menemukan yang tepat. Di tengah-tengah pencariannya tersebut, hadirlah sosok Rosie ke dalam hidup Don dengan satu permasalahan peliknya: menemukan ayah kandungnya. Akankah kemudian Don berhasil membantu Rosie sekaligus menemukan tambatan hatinya?

Kedengarannya ini hanya semacam novel cinta biasa. Namun, jika kembali pada sosok Don, ialah yang menjadi point utama cerita yang lalu memberikan rasa berbeda. Kerangka berpikirnya yang sangat aneh, pastilah tak umum dikalangan masyarakat kita. Jika ada satu keuntungannya bisa berbaur, itu karena tingkat kecerdasannya yang memang diatas rata-rata. Don diterima karena ia cakap dibidangnya, yang membuat Rosie tertarik untuk mengusik karakter psikologisnya. Walau memang tentu saja bukan dengan pendekatan cinta layaknya pria dan wanita sederhana. Tetapi melalui sebuah proyek penelusuran DNA untuk mencari ayah kandung Rosie. Yang kemudian berujung pada pengalaman-pengalaman anyar terhadap hidupnya, Rosie seolah memporak porandakan aktivitas Don yang dulu terstruktur dan sistematis.

Mengambil sudut pandang pertama sebagai gaya bercerita, Graeme membawa alur kisah ini dengan cepat dan tak bertele-tele. Khas penulisan seorang pria pada umumnya. Namun jika boleh menyampaikan kritik, ini merupakan salah satu novel terjemahan yang cukup sukar dipahami. Entah karena kosakata terjemahannya atau typo yang berulang, semuanya menjadikan alasan yang justru mematikan pembaca kala mencoba terkoneksi dengan karakter dan situasi cerita. Kamu perlu mengulang beberapa kali demi mendapat pemahaman adegan yang tengah terjadi. Satu babak saat Don sadar apa itu emosi dan rasa cinta, menjadi tidak se-wow yang seharusnya. Padahal ini adalah momen yang paling ditunggu dari buku setebal 375 halaman ini: Robot Don mulai terketuk hatinya dan berempati. Project untuk Rosie ternyata adalah penemuan makna diri Don sendiri. Semuanya menjadi terasa datar, karena kamu terlampau sibuk dan kewalahan menghadapi kata per kata terjemahan yang seringkali ambigu.

Jennifer Lawrence – Red Sparrow 2018, dikabarkan menolak peran pada film The Rosie Project

Baca buku versi bahasa aslinya, pastilah menjadi satu solusi untuk lebih memahami kisah Don dan Rosie. Namun bersabarlah sedikit lagi, karena rumornya buku ini akan diangkat ke layar lebar dengan segera. Walau sedang masuk masa produksi, tempatnya sebagai film yang akan rilis telah ada di situs resensi film ternama seperti IMDB. Dibawah naungan Sony Pictures, aktris kondang Jennifer Lawrence dikabarkan justru menolak tawaran bermain sebagai Rosie. Bocoran beberapa nama yang menggantikan posisi mantan pemeran The Hunger Games tersebut sudah mulai terdengar. Namun siapapun kelak yang menjadi Don dan Rosie, melalui poling yang dilakukan situs Movie Insider, sebanyak 547 orang sepakat untuk menantikan untuk menyaksikannya saat tayang nanti.

Sembari menunggu bagaimana animo masyarakat terhadap film ini, bukunya sendiri cukup layak untuk jadi koleksi. Paparan detail bidang genetika serta dunia psikologis, bisa menambah wawasan kita terhadap hal yang jarang terdengar ditelinga tersebut. Fakta yang cukup menarik ada dipenghujung cerita. Menyajikan diri Don yang rupanya terbentuk dari sekumpulan depresi masa lalu yang tak ia sadari. Ini semua seolah mengingatkan kita untuk lebih terbuka dan beradaptasi, agar tak perlu menumpuk emosi hingga mengendap dan terlupakan. Apa itu empati? Don justru baru mempelajarinya saat bertemu Rosie. Beruntung bagi Don, ia akhirnya punya Rosie untuk mengurai pikiran rumitnya sendiri.

Leave a Reply

Close Menu