Mengejar Bayangan Semu Dara dalam Vanishing Girls

Saya baru saja menutup buku Vanishing Girls ini, ketika tiba-tiba hasrat mengulang itu muncul. Bukan tanpa alasan, karena sepanjang cerita hingga akhir saya merasa tertipu. Saya sudah yakin akan segala hipotesis itu, saat fakta yang sebenarnya datang terlambat. Tidak! Kiranya memang sudah dirancang demikian untuk mengecoh saya dan kamu. Sedari awal, tokoh yang kita kejar selama ini rupanya tidak pernah ke mana-mana.

Kukira itulah yang paling menyenangkan dari menghilang, bagian ketika orang-orang mencarimu dan memohon agar kau pulang

Dara

BOOK REVIEW | Vanishing Girls – Lauren Oliver

Saya bisa mengerti. Menjadi seorang Nick itu pastilah serba salah. Orang tuanya bercerai, adiknya mogok bicara dan ia harus bertemu Parker di tempat magangnya. Nick sudah mencoba menghindar dari lelaki itu, tetapi hati dan otaknya tak bisa dibohongi. Lagi pula siapa yang tak suka jika dekat-dekat dengan mantan pacar?

Ups! Parker tak pernah jadi pacarnya. Dia itu pacar Dara, adiknya. Dan sekarang mungkin berstatus mantan. Nick tidak mengerti detilnya. Yang jelas Dara jadi susah ditemui sejak kecelakaan itu. Tapi meski begitu, Dara tetaplah Dara. Wujud fisiknya memang tidak ada, namun Nick bisa merasakan adiknya itu kerap mengusik wilayah pribadinya. Meminjam jaketnya, sepatunya, demi pergi ke tempat-tempat yang Nick tak juga paham dimana.

https://www.instagram.com/booksventura/

Judul Buku: Vanishing Girls (2015)

Author: Lauren Oliver

Genre: Thriller

Jumlah: 400 hlm

ISBN: 978-602-402-110-8

Diterbitkan oleh Qanita , 2018

Sampai suatu saat Nick tak tahan lagi. Habis sudah kesabarannya. Ia tak ingin kucing-kucingan terus selamanya dengan Dara. Ia perlu berbicara langsung dengan Dara. Namun sialnya Dara hanya meninggalkan pesan tertulis pada buku hariannya. Pesan yang memang khusus ditujukan untuk Nick.

Dear Nick

Aku menciptakan permainan

Namanya: Tangkap Aku Kalau Bisa

Entri Diari Dara – hlm 271

Jujur, saya sudah menanti kepergian Dara sejak lembaran pertama. Premis Vanishing Girls yang menarik itu membuat saya bersabar melewati banyak hal sebelum benar-benar melakukan pengejaran terhadap sosok itu. Saya terlebih dahulu disajikan Kasus Madeline Snow, romansa Nick dan Parker, kisah orang tua mereka, hingga reuni Dara dengan beberapa temannya. Karena sejak awal saya digiring opini untuk mengejarnya, maka sejak awal pula saya memindai beberapa kenalan Dara untuk saya tetapkan sebagai tersangka nantinya.

Sindrom PTSD Pada Tokoh Utama

Selama ini saya kenal Dara lewat cerita Nick. Sosok Dara yang dihidupkan Nick lewat pikirannya, bagai bayangan yang mengikutinya kemana-mana. Itu dilakukan berulang-ulang lewat alur maju mundur. Kamu dan Saya akan dimainkan perasaannya oleh kedua tokoh utama novel Vanishing Girls ini. Sama hal nya ketika saya sibuk menyusun deduksi kaburnya Dara, seolah saya lupa mempertanyakan hal yang paling mendasar. Nyatakah semua ini?

“Apa yang kau lakukan?” tanyanya (mom) hati-hati.

“Ini kan, ulang tahunnya,” kataku (Nick), seakan Mom tidak tahu. “Aku cuma ingin bicara padanya.”

“Oh Nick.” Mom memeluk diri sendiri. “…. Aku bahkan tak pernah berpikir seberat apa bagimu berada disini. Berada di rumah.”

Saat Nick kepergok Mom memasuki kamar Dara – hlm 225

Padahal yang nyata kehadirannya adalah kasus Madeline Snow. Meski hanya dibahas sambil lalu, akan menjadi daya pikat yang menjebak kita hingga akhir. Saya yang berupaya menuntaskan 2 hipotesis sekaligus, tentang Dara dan tentang Madeline, dibuat tercengang saat mengetahui dalang dibalik semua cerita ini.

Saya sampai perlu menelisik kembali surat-surat dari psikiater yang awalnya saya anggap angin lalu. Tertulis disana tentang Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) yang rupanya berdampak fatal bagi tokoh Nick. PTSD adalah sejenis penyakit kejiwaan yang menimpa individu akibat suatu trauma masa lalu. Namun meski itu membutuhkan satu momen tertentu sebagai pemantiknya, terlebih dahulu ada kebiasaan-kebiasaan pasien yang mengendap di alam bawah sadar yang kemudian keluar dan mendominasi pikirannya hingga berpengaruh pada aktivitas sehari-hari. Singkatnya ini semacam penyakit halusinasi.

Yang menjadi masalah ketika pasien justru menolak untuk sadar sepenuhnya dan tenggelam pada pikiran buatan mereka sendiri. Seperti Nick, yang rupanya diminta bekerja magang oleh ayahnya bukan tanpa sebab. Keluarganya memang tidak explisit menyebutkan soal penyakit ini. Mereka berupaya terlihat normal dan memberi Nick banyak kegiatan agar mampu menguasai pikirannya. Meski tentu saja Dara lagi-lagi akan mondar-mandir di sana.

Dr. Lichme dulu sering berkata mungkin aku menyukai itu, sedikit. Dia sering berkata mungkin membantu membereskan masalah orang lain mencegahku memikirkan masalahku sendiri.

Nick – hlm 234

Namun jika diperhatikan, pergerakan Dara ini sebenarnya memberikan beberapa clue yang lagi-lagi saya abaikan. Seperti saat ia meminta Nick untuk tidak menahan perasaannya atau meminta Nick untuk tidak mencampuri hidupnya.

Siapa tahu itu terulang lagi: HAI NICK!!! ENYAH DARI KAMARKU DAN JANGAN BACA DIARIKU LAGI!!!

Entri Diari Dara – hlm 98

Dara seolah memperjelas ini bukan tentangnya. Ini soal Nick lah yang rupanya jadi center dari semua cerita ini.

Kamusflase Teknik Penulisan

Bagaimana cara penulis memainkan pikiran saya adalah satu hal yang patut di apresiasi. Teknik penulisan yang dipilih penulis mampu mewakili topik STD yang diangkatnya. Meski saya kerap kali membaca novel sejenis yang menggunakan 2 bahkan lebih sudut pandang, belum ada yang menyajikan fakta beserta tipuannya secara berdampingan seperti pada buku ini. Saya menyebutnya sebagai kamusflase.

Targetnya jelas saya, pembaca. Sedari awal sudah ada 2 tokoh utama yang berjalan bersamaan. Nick dan Dara meski tidak saling bersinggungan secara fisik, justru menjadi benalu dalam pikiran masing-masing. Tiada detik yang terlewat tanpa membahas masa lalu mereka, yang kerap muncul di momen-momen masa kini. Seperti saat Parker ingin mencium Nick, yang ada di pikiran Nick justru tentang Dara.

Ledakan rasa sakit meletup di balik mataku. Mobil Parker. Kaca depan beruap. Wajah Dara. Aku memejamkan mata rapat-rapat, seakan-akan bisa memencarkan bayangan itu.

Dara pasti menyukai ini, pikirku, dan merasakan remasan rasa bersalah sekilas.

Nick – hlm 191

Jika diperhatikan ada saat-saat ketika porsi pikiran itu tidak imbang. Nick melulu tentang Dara, sedangkan Dara melulu tentang dirinya sendiri. Keegoisan Dara ini memang disengaja agar kita berpihak pada sosok Nick yang terkesan lebih teraniaya. Ketika empati kita sudah dipermainkan, akan lebih mudah merangkai skenario kamusflase ini. Kita akan mudah abai terhadap clue-clue kecil yang ditinggalkan oleh para tokoh pendamping.

Itulah mengapa, membaca buku ini sebaiknya tidak sembarangan. Saya sarankan untuk melakukan ini:

  1. Fokuslah pada kondisi tokoh sekarang
  2. Fokus pada barang-barang yang Dara pinjam dari Nick
  3. Perhatikan setting waktu. Nick dominan di siang hari, sedangkan Dara di malam hari
  4. Perhatikan gestur teman-teman disekitar Dara
  5. Perhatikan dialog antar tokoh utama bersama tokoh pendamping (setting masa kini). Apa yang dibicarakan tokoh pendamping lebih akurat dibanding tokoh utama
  6. Perhatikan surat menyurat antara orang tua dengan psikiater
  7. Perhatikan entri Diari Dara yang membahas soal Nick

Tentu saja tidak semudah kedengarannya. Apalagi kasus Madeline Snow yang belum beres juga menuntut perhatian. Keduanya tumpang tindih, membuat saya membayangkan yang tidak-tidak perihal nasib Madeline juga Dara. Namun ada sedikit kelegaan saat sampai pada penghujung cerita. Kisah ini rupanya tidak seseram dugaan saya.

Lagi pula ini semua tentunya berkat kepiawaian si penulis dalam memainkan alunan kata-katanya. Tentang kamusflase yang juga merambah ke berbagai unsur. Dan lagi-lagi ini perkara saya pribadi yang kurang melihat jeli demi mendapat deduksi yang tepat. Kalau saja sedari awal saya memperhatikan 7 poin di atas, tentunya akan lebih mudah membantu Nick menuntaskan masalahnya: menangkap Dara yang masih saja berkeliaran dalam benaknya.

______________________________________________________________________________

Baca Juga Artikel Menarik Lainnya

This Post Has 28 Comments

  1. Aku suka ulasan nya apalagi yang ada pesan buat nick Dear Nick
    Aku menciptakan permainan
    Namanya: Tangkap Aku Kalau Bisa 😆😆

    1. thank you. yuk baca bukunya juga 😀

  2. Aku jadi pengen baca setelah baca review nya, sepertinya kakak akan aku jadikan salah satu list Bookstagram yang bacaannya rekomendasi buat aku

    1. wah terima kasih. Senang dengarnya. Yang penting semangat membacanya turut tersampaikan ya kak.

  3. Jadi pengen baca, seperti Nya kakak akan jadi Bookstagram yang bacaannya rekomendasi banget buat aku

  4. Waw, that amazing! Karyanya bagus banget, aku tertarik banget pengen baca, novel yang menyajikan tentang perjuangan yang harus dimiliki semua orang!

    1. waah novel apakah itu yang tentang perjuangan kak?

  5. WOWW banget kak❤️. Jadi pengen bacaa dehh💓💓💓

  6. Jadi pengen baca bukunya, kak😅

  7. Keren ka bagudsss bget karya² ny + covernyaa

    1. terima kasih sudah mampir

  8. Wow kerenn 🔥 jadi pengen bacaaa ini tentang perjuangan bukan kak?

    1. bukan kak, ini genre misteri thriller

  9. Keren kakk.. habis baca reviewnya jadi langsung pengin masukin ke wishlist😁 dan memang sekarang lagi penasaran sama novel thriller & misteri. Sukses selalu kakk😊

    1. thank you uda mampir dan baca ya 😀

  10. Wow keren pengen baca bukunyaaa juggaaa, aku suka banget samaa novel² perjuangan🔥😭

    1. ini novel thriller kak 😀

  11. aku merasa Nick seperti mengidap schizophrenia. PSTD dan schizophrenia mirip ya??

    1. PTSD lebih ke pemicunya, ada kejadian hebat yang membuat seseorang trauma. Walaupun mengalami penyembuhan, sewaktu-waktu bisa kambuh lagi jika ada pemicunya. Karena kaitannya sama memory otak. Schizophrenia adalah salah satu hasilnya. Jadi hematnya Schizophrenia biasanya karena PTSD, namun PTSD belum tentu bisa sampai ke tahap Schizophrenia.
      Mungkin link ini bisa membantu: https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3644660/ptsd-pada-anak-bisa-ganggu-tumbuh-kembang-benarkah

  12. Baru baca review nya aja udah terbawa suasa a apalagi baca buku nya langsung😭

    1. yuk baca bukunya juga kak 😀

  13. Ok setelah baca review bukunya… Fix TBR gua kian hari makin banyak🙃😭 terima kasih telah meracuni saya📚 Semangat terus kakk 👍🏻👍🏻💜

    1. thank you uda baca ulasan saya

  14. pengen baca bukunya dech 😍

Leave a Reply

Close Menu
%d bloggers like this: