Cerita Ephemera Lewat Kaca Mata Thriller

Saya belum pernah dengar istilah Ephemera sebelumnya. Jika pun mendengar, saya menduganya sebagai sesuatu yang positif. Ada unsur menyenangkan saat mengeja kata itu. Namun semua makna ini menjadi bias, saat saya merampungkan novel yang mengangkat judul Ephemera karya Akaigita. Saya tak pernah mengira kata sederhana ini bisa dirangkai menjadi cerita misteri rumit yang membangkitkan gairah bertualang dalam diri saya.

Tubuh kita bisa terbentuk dan hancur dengan mudahnya, tapi pikiran kita tidak, Venus. Pikiran kita kekal selama kita mengutarakannya

Adam, hlm 289

BOOK REVIEW | Ephemera – Akaigita

Cerita bermula dari cewek bernama Venus. Dia baru saja sadar dari koma. Venus sebelumnya terjatuh ke sumur tua di dekat rumahnya. Dia mengaku melihat ular besar sebelum dirinya terjatuh. Namun kesaksiannya tidak dipercaya oleh semua orang. Mereka menganggap Venus berhalusinasi dan semua itu murni kecelakaan.

Venus lalu pulang ke rumahnya. Ia bertemu dengan ayah, ibu dan Luna, adiknya. Di tengah dirinya yang butuh penyesuaian kembali ke lingkungan, cewek itu merasa ada hal janggal yang disembunyikan oleh keluarganya. Belum lagi adiknya Luna yang meskipun penurut, terlihat seolah menghindar darinya. Venus juga turut mempertanyakan Adam. Teman masa kecilnya itu tak lagi kelihatan batang hidungnya. Ketika bertemu di sekolah pun, Adam buru-buru pergi saat Venus mendekat. Hal ini membuat cewek itu semakin sedih dan kesepian.

Judul Buku: Ephemera

Author: Akaigita

Genre: Thriller

Jumlah: 296 hlm

ISBN: 978-602-06-3654-2

Diterbitkan oleh Gramedia, 2020

Hidup dari kacamata Venus terasa abu-abu. Saya saat itu, belum bisa judgment apa-apa. Paparan kejadian dan setting hanya tersaji sedikit, sehingga tak ada yang bisa dianalisis. Meski sesekali saya diberi clue soal karakter tokoh Venus ini, tetapi saya optimis dan memilih mengikuti alur saja.

Namun belum selesai urusan Venus, sudut pandang itu berubah. Kali ini Luna lah yang mengambil peran dan di situlah tirai misteri sedikit tersingkap. Karakter Venus yang saya cintai, ternyata bertolak belakang dengan apa yang saya pikirkan. Sungguh, saya tadinya empati sama nasib dia. Jatuh ke sumur, amnesia, keluarga yang aneh… Coba baca saja part itu, pastilah perhatianmu akan direbut oleh Venus seluruhnya. Saat saya terombang-ambing, tokoh Adam rupanya ikut membenci Venus. Lewat kacamata Adam ini, kita akan mendapati fakta soal Venus yang tadinya tertutup rapat-rapat di awal.

Sosok Penting Sebagai Sumber Masalah Utama

Mari bicara soal Ephemera. Satu kata magic itu, yang sudah saya nanti kehadirannya sejak semula, rupanya tepat sesuai tebakan saya. Ephemera adalah aktivitas bernada positif. Kegiatan ini seringkali tanpa sengaja kita lakukan. Namun Adam yang memang mahir mengoleksi benda ini, punya tujuan khusus. Ia ingin mengumpulkan informasi berharga yang dianggapnya akan berguna pada masa mendatang.

Menyebalkan memang rasanya. Baru saja kita berempati pada Venus, selanjutnya kita akan menuduhnya sebagai sosok antagonis. Ternyata bukan! Venus, Luna dan Adam itu cuma pion. Ada Raja dan Ratu yang memegang kendali semua cerita ini. Mereka semua akan hadir dari sosok yang tidak kita duga. Sama ketika saya menyusun deduksi di mana lokasi ular tersebut, datangnya justru dari tempat yang tidak saya sangka.

Iya, rupanya ular yang kami anggap fana itu adalah biang keroknya. Ia adalah Ephemera milik Datuk yang meninggalkan luka untuk banyak orang. Saya baru benar-benar menyadari ketika mendekati konflik. Saya terlampau hanyut pada tiap momen yang dibangun para karakter. Ada momen Luna bersama Adam, Luna yang self harm, hingga kemesraan Luna memasak bersama Bibinya. Ini semua lalu lalang dibenak saya, dan sejenak berhasil melupakan tujuan utama dari misteri sosok penting ini.

Untunglah ada Herman. Tokoh di luar circle memang patut dihidupkan untuk membuat pembaca berpikir jernih. Karakter Herman ini, sesuai dengan perannya sebagai tokoh pendamping. Ia luwes, kocak dan paling santai menghadapi masalah. Saya turut suka gaya penuturan Herman yang ceplas ceplos. Ini terasa membumi dibanding membaca pikiran Venus, Luna dan Adam yang seringkali kelewat serius. Lewat Herman lah saya bisa sedikit menghembuskan nafas di antara konflik para tokoh yang tak kunjung usai itu.

Lantas bagaimana ini semua diakhiri? Baca saja novel ini. Pesan moralnya mungkin tak akan mudah kamu dapat. Namun sensasi kengeriannya akan menahan nafasmu, selagi satu demi satu tabir misteri sang monster itu terkuak.

This Post Has 2 Comments

  1. Aku juga suka pas adegan masak – masak ituh, meyentuh hati. Plus aku jadi lapar juga sih

    1. iya, beneran makanya ini nggak nyangka banget, tokoh yang kukira paling waras ternyata psycho juga huhu

Leave a Reply

Close Menu
%d bloggers like this: