Inikah Kisah Si Kerudung Merah Versi Modern?

“Apakah ini pohon ajaib yang punya kemampuan untuk mengabulkan permintaan? Bagaimana bisa sekian detik setelah ia membisikkan nama Greg, pria itu muncul disana?”

BOOK REVIEW // The Lady In Red – Arleen A.

Satu kata saat menuntaskan buku ini adalah indah! Deskripsi penulis akan setting tempatlah yang paling juara. Arleen sukses membawa saya hanyut dalam suasana khas pedesaan California: sapi, jerami, afalfa, berbukit-bukit hingga rerumputan hijau. Tepat saat hati saya telah dicuri, lebih mudah untuk kemudian jatuh cinta pada tiap aktor. Karakter yang dibangun masing-masing tokoh begitu hidup, sampai-sampai terasa nyata karena feel yang dapet banget.

Sumber gambar: https://www.instagram.com/booksventura/

Judul buku: The Lady In Red
Penulis: Arleen A.
Penerbit: Gramedia 2016

Layaknya pohon silsilah, kisah ini dibagi menjadi 3 bagian dan 2 rentang waktu berbeda. Dibuka dengan kisah percintaan 2 pasang sejoli dengan 2 nasib yang tak sama. Adalah Robert dan Betty generasi awal pendiri Wotton Farm saling jatuh cinta. Percintaan beda budaya ini dituturkan dengan baik dan sopan. Penulis memberikan gambaran cinta khas 1900an yang malu-malu kucing dan bikin kita tersipu gemes. Mereka mendapat restu, lalu berketurunan dan hidup bahagia . Kontras sekali kebahagiannya dengan Jerry dan Wanda pendiri Stepphen Farm, tanah tetangga, yang hanya berat sebelah. Karakter Jerry yang liar bertemu dengan Wanda yang menginginkan kesejahteraan hidup. Namun sedihnya saat Jerry dengan sepihak menjual pertanian Stepphen Farm yang meninggalkan luka mendalam dihati Wanda. Kisah mereka berhenti disini dan diselipi oleh beberapa Interlude. Interlude ini menceritakan kisah serigala yang terusir dari tanah moyangnya yang membuat saya menebak-nebak apa hubungannya dengan jalan cerita yang utama. Ketika kemudian memasuki konflik ditahun 2020, kisah cinta segitiga Greg, Rhonda dan Brandon barulah saya paham benang merahnya keseluruhan cerita ini.


Baca Juga Artikel Menarik Ini:

Gaya tulisan Arleen seperti membaca terjemahan dengan editing terbaik. Seakan lupa kalau penulisnya berasal dari negeri sendiri. Semuanya memang diramu secara matang dengan berbagai alasan. Misal, tiap bab hanya dibuat 2-4 lembar saja bertujuan untuk mengantisipasi jenuh. Adegan tiap paragraf disertai bumbu pergulatan batin bawah sadar tokoh, yang menggiring opini untuk setuju dengan tindakan sang aktor. Ini adalah satu hal yang saya suka. Arleen dengan cerdas bisa membawa pembaca sepaham melalui dialog isi hati para tokohnya. Meskipun saya merasa motif Brandon mengusik kehidupan Rhonda tidaklah begitu kuat, namun pesan tetua meminta saya untuk berempati terhadap karya ini. Memang itulah maunya Brandon, sekalipun ia tajir melintir tak akan lengkap jika tidak mampu menunaikan tugas yang telah digaungkan oleh moyangnya sejak lama.

Selebihnya saya turut suka bagaimana cara Arleen melakukan paparan olah tubuh tokoh hingga dialognya yang selalu detil. Seakan saya sedang nonton drama TV saja. Walau setting terakhir berada ditahun 2020, Arleen mampu merangkai cerita yang less gadget namun tetap berkelas. Misalnya saja Arleen tetap memasukkan media SMS sebagai komunikasi, meskipun nyatanya saat ini WA jauh lebih populer. Lainnya saat Greg memutuskan pulang ke pertanian untuk melakukan konfirmasi juga terasa wajar, walaupun sakjane konfirmasi via telepon pun sudah cukup. Develop masing-masing karakter pun dibuat sesuai purna tugasnya, Jikalau ada tokoh yang kurang dapat highlight pun semuanya akan terasa oke saja, karena memang porsi cameo atau tokoh jahat sepantasnya ya sampai disitu saja.

Jadi, kalau kamu tanya ๐˜”๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ ๐˜™๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ kisah Si Kerudung Merah terbaik? Disinilah tempatnya. Saya sampai tak mampu berkata-kata saking terpesonanya terhadap karya ini. Pokoknya saya suka dan sangat merekomendasikannya untuk dibuat versi Live Action! Semoga ada rumah produksi yang mau melirik ya!
โฃ

Leave a Reply

Close Menu