Keteguhan Hati Jane Eyre

Katakanlah saya sedikit terlambat. Di antara banyak novel klasik yang sudah saya rampungkan berkali-kali, nama Jane Eyre justru muncul belakangan. Tak menampik bahwa saya lebih dulu jatuh cinta pada cover bukunya dibanding karakternya. Bagaimana tidak? 100 halaman pertama, tokoh ini begitu bengis memandang hidupnya. Pikirannya penuh emosi negatif yang membuat saya mengernyitkan dahi. Apa yang sebenarnya tengah terjadi pada gadis belia ini? Mengapa ia harus memancarkan aura kemarahan yang begitu dalam terhadap nasibnya kala itu?

“Kalau begitu kau memiliki harapan rahasia untuk menguatkanmu dan menggembirakanmu dengan bisikan-bisikan akan hari esok?”

Mr. Rochester (hlm. 297)

BOOK REVIEW | Jane Eyre – Charlotte Bronte

Jika menyebut Jane Eyre, kita langsung mengingat kisah percintaannya yang pilu. Namun wanita itu lebih dari sekedar objek cinta. Sejak awal dipaparkan bahwa ia tidaklah cantik. Ia tidak semolek gadis-gadis usianya dan tak punya kelebihan apa-apa. Namun kekurangan fisiknya ini seharusnya tak jadi masalah, jika saja Jane kecil bersikap lebih manis.

Sayangnya, Jane Eyre kecil tak sudi menunduk barang sedetik pun terhadap Mrs. Reed, bibinya. Ia melawan, marah dan membantah semua tuduhan yang diberikan padanya. Akibatnya, keluarga ini tak sanggup lagi mengasuh gadis itu. Ia pun dipindahkan ke asrama sekolah ortodoks Kristen yang menanamkan nilai-nilai ketat kerohanian, yang kemudian menjadi pembuka jalan bagi Jane Eyre.

Review Novel Klasik Jane Eyre

Judul Buku: Jane Eyre

Author: Charlotte Bronte

Genre: Roman Klasik

Jumlah: 688 hlm

ISBN: 978-979-22-6310-7

Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, 2010

Di sinilah segalanya berproses untuk tumbuh. Lembaran awal yang semula penuh kebencian, pelan-pelan mulai berubah haluan. Diksi kasar Jane dan temperamennya masih ada di setiap tekanan tulisan, namun hadirnya tokoh Helen yang menjadi sahabat Jane Eyre, turut membawa banyak perubahan pada karakter gadis itu.

“Kalau seluruh dunia membencimu dan percaya kau ini jahat, sementara hati nuranimu sendiri membenarkanmu dan menyatakan kau bersih dari kesalahan, tak mungkin kau tak punya teman.”

Helen (hlm 104).

“Aku yakin ada dunia masa depan. Aku percaya Tuhan itu baik. Aku bisa memasrahkan bagian diriku yang abadi kepada-Nya tanpa kekuatiran apa pun.”

Helen (hlm 122).

Dengan POV langsung dari matanya, saya bisa merasakan watak Jane yang jauh lebih berkembang saat berada pada sekolah itu. Meski beberapa ketidakadilan mengenai sistem sekolah ortodoks membuat saya bergidik, tak menyurutkan semangat Jane dalam menempuh pendidikan. Sekolah ini juga lah yang turut berperan membentuk banyak mimpi dalam dirinya. Dimulai dari keinginanya bisa belajar sebaik mungkin, lalu ingin menjadi yang terbaik di sekolahnya, sampai menjadi guru di sekolah tersebut. Jane Eyre terbiasa merancang tahapan cita-cita untuk dirinya sendiri. Meski banyak rintangan, Jane tetap berusaha mencari celah agar dapat mewujudkan semua keinginannya.

Kemandirian Jane Eyre

Seperti umumnya ditemukan dalam novel roman klasik, tokoh Jane Eyre diberi sifat keteguhan hati. Ia cukup keras kepala mempertahankan prinsip hidupnya, terutama yang menyangkut soal keimanan. Jane Eyre juga digambarkan sebagai sosok yang pantang menyerah, berani mengutarakan pikirannya, menatap langsung ke arah lawan bicaranya baik kepada pria maupun wanita.

“Aku bukan burung, dan tidak ada jala yang menjeratku. Aku ini manusia merdeka dengan kemauan yang mandiri, yang kini kutegakkan untuk meninggalkanmu.”

Jane Eyre (hlm 381).

Ditambah didikannya semasa sekolah, sosok Jane Eyre tumbuh menjadi wanita dengan pendirian teguh. Cita-citanya kala itu tidak muluk-muluk. Jane Eyre sesungguhnya hanya ingin mandiri secara finansial dan bisa bekerja sesuai dengan bidang yang ia inginkan.

Ide yang terkesan sederhana ini, rupanya tak sembarangan bisa ditempuh oleh wanita kebanyakan pada era itu. Mengingat menikah selalu menjadi tujuan utama tiap wanita saat itu, Jane justru kebalikannya. Ia sedari awal sadar diri akan posisinya dan lebih mengutamakan mencari pekerjaan untuk dapat menghidupi dirinya sehari-hari.

Mencintai Karena Tuhan

Seiring perjalanan waktu, Jane akhirnya mengenal rasa cinta. Momennya bersama Mr. Rochester, majikannya, bernuansa manis yang menyenangkan. Namun tetap saja akan ada unsur spontanitas khas miliknya saat mereka berbicara. Itu semua berhasil membuat saya berdebar-debar khususnya pada beberapa dialog saat bersama Mr. Rochester. Penggalan puisi dan ditambah kalimat diksi pikiran Jane sendiri, semakin memperkaya momen romansa di antara keduanya.

“Apakah kau kira aku bisa tetap disini dan menjadi bukan siapa-siapa bagimu? … Sanggup melihat secuil rotiku direbut dari bibirku, dan setetes air hidupku ditumpahkan dari cangkirku?”

Jane Eyre ( hlm 381).

Ia lalu mengalami konflik dan keputusannya untuk melarikan diri dari Mr. Rochester memberi banyak pelajaran hidup untuknya. Persis saat itulah saya bisa merasakan besarnya cinta Jane terhadap majikannya. Jane tengah mempertahankan kehormatannya dengan cara pergi dari hidup Mr. Rochester. Ia siap berkorban perasaan cinta manusiawinya dan memilih mencintai Tuhan sepenuhnya.

Jane Eyre lalu terlunta-lunta di jalan. Adegan ini begitu menyayat hati sekaligus memberi banyak pengharapan bagi pembaca. Kita bisa merasakan bagaimana susahnya Jane bertahan hidup tanpa uang sepeser pun saat itu. Ia tak lagi banyak membahas soal perasaan cintanya, karena Jane fokus mencari penghidupan yang layak untuk dirinya. Walau sempat terpuruk karena hatinya terluka, ia bangkit lebih cepat. Ia menyibukkan diri dengan mengajar anak-anak miskin, meski dengan imbalan tak seberapa.

“Rohku.. mau melakukan apa yang benar; dan dagingku, kuharap, cukup kuat untuk memenuhi kehendak Surga, begitu kehendak itu kuketahui dengan jelas.”

Jane Eyra (hlm 638).

Pada momen ini, Jane turut mengalami titik balik terpenting dalam hidupnya. Namun Jane yang memang sudah terbiasa dengan kesederhanaan, tidak pernah silau akan harta. Ia justru bergembira ketika menemukan orang-orang baik yang lalu menjadi tempatnya berpulang. Bersama mereka, Jane lalu memperbaiki kualitas hidup serta pendidikannya. Ia sempat lelah, namun Jane percaya akan ada buah kebaikan yang dipetiknya satu saat nanti. Itu semua dilakukannya secara ikhlas demi pengabdiannya terhadap jalan Tuhan.

Jane Eyre Dalam Cinema

Kisah Jane Eyre ini cukup populer dan sudah di filmkan berkali-kali. Salah satunya Jane Eyre (2011), yang dibintangi oleh Mia Wasikowska sebagai Jane Eyre, Michael Fassbender sebagai Mr. Rochester. Berbeda dari sebelumnya, dalam film terbaru ini saya merasakan nuansa yang lebih dark. Seolah ingin mengambil sisi misterius dari novel ini, akan banyak adegan yang membuat penasaran dan serta jumpscare di beberapa bagian terutama saat Jane berada di Thornfield.

Image Sources: rottentomatoes.com

Jane juga digambarkan sesuai dengan bukunya. Ia berparas sederhana, dengan gaya rambut dan busana rapi yang mencerminkan kepatuhannya terhadap pendidikan ortodoks. Lawan mainnya, Mr. Rochester meski tidak tampan, mempunyai aura dan ketegasan seorang bangsawan. Lewat bahasa tubuhnya kita bisa menangkap kesan cinta mendalam Mr. Rochester terhadap Jane.

Penghujung dari seluruh kisah ini adalah yang paling dinanti banyak penggemarnya. Meski tidak semua adegan akurat sesuai dengan bukunya, keduanya terbilang berhasil menghidupkan kisah romantis novel legendaris ini. Kamu akan terhipnotis saat Jane kembali berjumpa Mr. Rochester setelah sekian lama. Ketika Jane dengan keteguhan hatinya tetap memilih panggilan Tuhan untuk datang kepada mantan majikannya. Ketika ia semakin yakin bahwa inilah buah kesabaran yang dijanjikan Tuhan untuknya. Mencintai dan dicintai dengan seteguh hati.

Image Source: filmschoolrejects.com

Leave a Reply

Close Menu
%d bloggers like this: