Ketika Duke Bucin Pada Rakyat Jelata

“Kedengarannya klise, tapi bukankah itu yang kita semua paling inginkan. Cuma mengetahui apakah seseorang mencintai kita apa adanya..” ujar Sarah kepada Bronte.

BOOK REVIEW // A Royal Pain โ€“ Megan Mulry

Mana yang paling menyenangkan? Ditaksir oleh seorang bangsawan atau temen club malam? Bronte inginnya yang sederhana saja. Background percintaannya yang sebelumnya berantakan tak bisa membuat dirinya berharap banyak. Dimulai dari kencan patah hati, Bronte Talbott meluapkannya kepada Max Heyworth, pria yang tanpa sengaja ditemuinya. Bronte begitu menikmati kedekatan fisiknya bersama Max. Hingga ketika pelan-pelan semuanya terkuak, Ia terlambat menyadari bahwa Max ternyata bukanlah orang biasa. Mereka terlanjur bercinta tanpa boleh jatuh cinta. Akankah Bronte kelak dijemput kereta kuda layaknya Cinderella?

A Royal Pain (2012)
Megan Mulry
Diterjemahkan dan diterbitkan oleh Gramedia (2015)

Mereka berpisah, tentu saja! Max bangsawan Inggris yang kelak memimpin negara, sedangkan dirinya hanya rakyat jelata. Menjalani kehidupan masing-masing hingga setahun sesudahnya mereka bertemu lagi. Kamu perlu tahu, Max memang kelewat bucin pada Bronte. See, dia adalah Marquise yang sebentar lagi naik tahta menjadi Duke. Ia bisa saja memilih wanita manapun, karena yakinlah gadis macam saya pun rela ngantri jadi pacarnya. But sorry to say, bayang-bayang Bronte kian menghantui Max. Jadilah pria itu yang memancing Bronte untuk kembali ke pelukannya. Ah pastilah membahagiakan digilai oleh pria menawan macam Max.

Baca Juga Artikel Menarik Lainnya:

Nyatanya ga semudah itu kisanak. Author membawa kita untuk melihat dari sudut pandang Bronte tentang masalah ini. Ia senang, namun ada yang musti dipertimbangkan dari sekedar say yes. Lewat Bronte kita akan diajak merenungkan banyak hal tentang percintaan beda status ini. Bronte menginginkan tak ada perubahan dalam hidupnya: karir, keuangan, keluarga dan yang terpenting adalah kemerdekaan menjadi dirinya sendiri dan bukan bentukan publik semata. Ia tak semudah itu mengiyakan ajakan Max saat meminangnya. Max harus melalui serangkaian test tak tertulis miliknya untuk meyakinkan. Dilain pihak Max juga meminta Bronte pelan-pelan menyesuaikan diri dengan hidupnya yang jetset, bertemu dengan keluarganya dan oh tentu saja dengan ibunya!

Kisah ini menggunakan alur maju yang jelas dengan seting tempat berbeda-beda. Terbang kesana sini adalah hal yang biasa, tidur dikamar-kamar hotel pun sudah semestinya. Tak semuanya dipaparkan langsung di depan. 2-3 bab pertama kita akan disajikan kisah romansa beda status yang mendayu dan berhasil menguras emosi. Setting tempatnya hanya di apartemen Bronte. Siapa sangka jika kemudian kita akan loncat kesana kemari mengikuti tokoh Max yang memang sibuk dan mobile. Sayangnya deep talk yang seharusnya dibangun pada satu adegan penting malah terasa flat. Sampai ke penghujung cerita pun tidak ada drama berlebihan seakan-akan semudah itu menaklukkan seorang Duke. Adegan inti saat Bronte bertemu camer juga tidak sepanas yang saya harapkan. Saya menginginkan pembunuhan karakter macam Ibu Dao Ming Shi terhadap San Chai dalam Meteor Garden. Sayangnya itu tidak terjadi, karena Megan memilih mempertahankan martabat Bronte tanpa membuatnya terpuruk banyak.

Diluar itu semua, genrenya sebagai Novel Chicklit adalah tepat. Karakter Bronte begitu kuat akan prinsipnya khas wanita masa kini: mandiri, berkarir dan melek fashion. Buku ini memang disarankan untuk pembaca dewasa karena narasi percintaan yang vulgar dan tak main-main. Walau permasalahan umum pada novel terjemahan kerap terjadi, tak menyurutkan gambaran saya akan sosok pribadi Max Heyworth. Dia adalah Darcy masa kini yang mencintai Bronte apa adanya.

Leave a Reply

Close Menu