Makna Hidup The Golem and The Jinni

Golem Jinni adalah ironi. Kalimat inilah yang terlintas dibenak saya usai merampungkan buku ini. Sepanjang 664 halaman ketika saya menikmati kisah mereka, tak pernah sedikit pun terbersit satu ending yang akhirnya mereka pilih. Saya sudah terlanjur menyelami keduanya, ketika baik Golem dan Jinni lagi-lagi harus memulai semuanya dari nol. Pilihan hidup yang terbaik dibanding tidak sama sekali.

“Kalau begitu, inikah yang dimaksud dengan cinta sejati?” dia bertanya. “Tradisi dan nilai-nilai?”

Chava (hlm 215).

BOOK REVIEW | The Golem and The Jinni – Helene Wecker

Setiap orang pastinya pernah mengalami hal ini. Ketika masing-masing individu berkelana mencari jati diri mereka, juga perannya dalam tatanan sosial masyarakat saat itu. The Golem and The Jinni, yang keduanya bukan ‘orang’, bukan individu sejak lahiriah dipaksa menyesuaikan peran mereka dalam masyarakat yang terlanjur mereka pilih, warga Amerika. Meski secara fisik mereka terlihat sama, keduanya sering kali meragukan identitas masing-masing. Merasa tak berdaya, rendah diri, kesepian juga tak memiliki tujuan, adalah masalah-masalah yang menyerang mental mereka diawal-awal perjalanan keduanya.

Review Novel Fantasy The Golem and The Jinni

Judul Buku: The Golem and The Jinni

Author: Helene Wecker

Genre: Fantasy

Jumlah: 664 hlm

ISBN: 978-602-03-1425-9

Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, 2015

Ada masa-masa ketika Golem menutup dirinya dari kehadiran orang baru. Terlebih lagi saat masternya, yang membangkitkannya di atas kapal, yang seharusnya bertindak sebagai suami, mati saat itu juga di depan matanya. Golem berwujud perempuan itu tak tau mesti beremosi apa dengan kejadian barusan. Detik yang lalu ia terlahir, detik selanjutnya ia menjadi janda yang terlunta-lunta di jalanan Amerika. Sampai di sini saya turut bisa merasakan bagaimana bingung menjadi Golem. Berulang-ulang diksi soal master digaungkannya, sehingga saya pun menjadi iba pada nasibnya.

Di tempat berbeda, Jinni tak sengaja terbangun dari tidur panjangnya. Ia menggeram marah dan ingin mematahkan leher Arbeely, pandai besi yang tak sengaja sedang mereparasi guci tempatnya bersemayam. Sampai disini saya teringat akan kisah klasik jaman kanak-kanak. Namun bukan itu rupanya yang ingin disampaikan penulis. Ia memikirkan karakter Jinni sebegitu dalamnya, sehingga saya akan merasa terpesona akan banyak hal soal Jinni dan tak lagi mempermasalahkan ‘3 permintaan yang musti diwujudkan’.

Budaya dan Unsur Keagamaan Tertentu

Bagai mengenal secara nyata kedua tokoh utamanya, masing-masing makhluk ini diberi nama. Panggil Chava untuk si Golem dan Ahmad untuk si Jinni. Sejenak ketika masing-masing nama itu disematkan, saya mencoba memahaminya. Ada ratusan lembar latar belakang yang mendasari pemilihan nama keduanya, yang lalu saya temukan di halaman-halaman sesudahnya. Kehidupan para Rabi, Little Syria, padang pasir, bahasa ibrani dan juga rumah tinggal para Yahudi silih berganti mengisi kehidupan para tokoh utama. Sedikit banyak saya pun menemukan banyak info menarik terkait kebudayaan tertentu, yang kemudian turut mempengaruhi tiap tokoh pendamping yang hadir pada buku ini.

Meski, budaya dan ritual keagamaan kerap disinggung dalam tiap adegan, tak ada wujud Tuhan yang benar-benar dihadirkan pada kisah mereka. Ahmad bahkan menegaskan lewat percakapannya bersama Arbeely bahwa kaumnya (kaum Jin) hadir begitu saja pada semesta. Ahmad kerap menyindir kaum manusia yang mudah percaya hal-hal ghaib yang menurut pandangannya adalah perbuatan kaum Jin itu sendiri.

“Tapi aku selalu ada. Jin mungkin tidak memilih bisa melihat, tapi bukan berarti kami imajiner. Dan tentu saja kami tidak minta disembah. Omong-omong.. kau sendiri pernah bilang terkadang kau tidak yakin Tuhan itu ada.”

Ahmad (hlm 263).

Lain hal dengan Chava yang memang diciptakan untuk tujuan berdedikasi pada master. Butuh satu keahlian dari ilmu keagamaan tertua di dunia untuk merumuskan materi pembuatannya. Sang Rabi Yahudi pun diberikan peran sebagai pembimbing Chava saat di Amerika. Lingkungan Chava tinggal pun dikelilingi oleh para orang-orang beriman dan beberapa ritual keagamaan seringkali disinggung dalam kesehariannya.

Kontrasnya pandangan eksistensi Tuhan di antara keduanya, tak lantas menjadikan Chava serta Ahmad saling mengungguli. Kiranya skenario masing-masing tokoh, memberi kita pilihan untuk memihak tokoh mana yang paling sesuai dengan hasrat kita. Kesetiaan Chava menjadi bukti bahwa diperlukan sifat ini jika ingin bercita-cita sebagai abdi. Namun, pemberontakan Ahmad seakan membangkitkan semangat kemerdekaan seorang insan yang mampu menyetir kehidupannya sendiri.

The Golem and The Jinni Mencari Makna Hidup

Banyak detil-detil aktivitas keduanya yang mengingatkan kita perkara kedudukannya. Golem yang sesungguhnya tak bernafas, yang dapat menyembuhkan lukanya sendiri, yang tidak tertidur di malam hari dan yang memiliki kemampuan membaca pikiran orang lain kecuali satu orang, pikiran Jinni. Golem yang meski berparas cantik dan menarik ini, rupanya mampu merontokkan manusia dengan satu pukulan saja saat marah.

Lain hal dengan Jinni. Ia digambarkan sebagai pemberontak, tak mau diatur oleh makhluk lain (manusia), berjiwa bebas dan memiliki beberapa kesaktian. Kedua POV mereka saling bergantian muncul, terutama di 200 halaman pertama ketika masing-masing masih beradaptasi dengan kehidupan barunya. Meski terasa lambat, sesungguhnya detil-detil tiap tokoh yang muncul saat itu diperlukan untuk menjadi alasan yang nantinya menentukan ending kisah ini.

Berbeda dengan Golem yang tak memiliki masa lalu. Beberapa adegan saat Jinni teringat tentang padang pasir kampung halamannya, juga menjadi nilai tambah tersendiri. Sering kali ketika saya bosan dengan POV Chava yang lebih berisi kegalauan pikirannya, POV Ahmad mampu memberi kesegaran dalam buku tebal ini. Sesuai dengan jiwa bebasnya, Ahmad lebih mampu beradaptasi dengan keadaan dan memilih bertualang pada belantara kota Amerika.

“Malaikat di negeriku tidak melayani siapa pun, mereka tidak lebih tinggi dan tidak lebih rendah daripada mereka sendiri. Mereka mengembara kemana pun sesuka hati. Jika bertemu kadang-kadang mereka saling menyerang, tapi bisa juga saling menyapa ramah. Dan jika bertemu dengan manusia… kejadiannya sering kali sama.”

Ahmad (hlm 150).

Mereka cukup lama menjalani kehidupan masing-masing secara terpisah. Sehingga ketika satu momen mereka akhirnya bertemu, akan menjadi hal yang paling kita nanti-nanti selama ini. Kebersamaan mereka sedikit banyak membawa perubahan positif untuk Chava maupun Ahmad. Akan ada banyak gugatan dan diskusi soal cara pandang hidup di masing-masing pihak. Namun ada banyak juga perenungan di tiap usai pertemuan mereka. Semuanya saling melengkapi, meski tak ada kalimat cinta substansial yang dilontarkan satu sama lain.

Konfilk Dan Klimaks

Setelah kita dimanjakan oleh diksi-diksi pencarian jati diri, sematan konflik menjadi lebih bias karena saya lebih terhanyut pada pemikiran tiap tokohnya. Boleh jadi tak ada konflik yang benar-benar rumit secara pemahaman dibandingkan fisiknya, selain pada buku ini. Sejak awal kamu sudah bisa menduga ke arah mana semua kisah ini pada akhirnya akan bermuara. Namun penyelesaian konflik yang terburu-buru terasa kurang matang, jika disandingkan dengan awal-awal paragraf lalu.

Aku akhir dari seribu tahun kesengsaraan dan perjuangan! Kau mungkin telah memberi kami keabadian yang cacat ini, tapi akulah yang akan pertama kali mati tanpa rasa takut!

Schaalman (hlm 598).

Menjadi lebih ironi ketika mengetahui tokoh antagonis, Schaalman, yang kita kira jahat selama ini, hanya ingin mematahkan satu takdir tertentu yang digagas oleh pendahulunya. Baik Golem maupun Jinni tak ubahnya hanya pion semata. Sihir beradu dengan sihir, bakat beradu dengan bakat. Golem dan Jinni ini pun bak super hero yang lalu bersatu memberantas ketidakadilan, yang oleh orang sekitar dianggap ambigu. Saya cukup menikmati momen ini, meski tak sepenuhnya berdebar-debar saat pertikaian itu terjadi.

Lalu bagaimana ini semua di akhiri? Saya sepakat jika buku ini dianggap belum tuntas oleh para pembacanya. Pilihan sementara yang dilakukan oleh Jinni di padang pasir tak hanya penuh resiko, namun juga memberikan clue bahwa kisah ini belum selesai. Golem dan Jinni tak mungkin sepenuhnya menjadi manusia. Tetapi kesamaan nasib diantara keduanya memantik harapan saya dan kamu untuk percaya bahwa getaran rasa itu muncul kepermukaan. Meski tentu saja itu semua bukan dalam bentuk romansa antara pria dan wanita biasa.

Leave a Reply

Close Menu
%d bloggers like this: