Menggugat Harta, Tahta dan Pria Pada Shelter

Ini di luar prediksi! Tadinya saya kira novel bergambar karakter pria wanita pada desain sampul hitam itu biasa saja. Namun, ternyata saya salah. Baru membaca beberapa lembar saja, saya sudah dibuat terkejut. Adegan pembukanya langsung memantik adrenalin. Berlatar kelamnya malam, saya bertanya-tanya tentang judul terpilih itu. Shelter. Siapa yang butuh perlindungan, kalau sejak prolog saja tokoh utamanya sudah mati?

Mungkin alam bawah sadarku sendiri menyadari kalau selama ini, orang yang mengikutiku adalah kamu. Mungkin karena kamulah orangnya, aku tak pernah merasa takut.

hlm 229.

BOOK REVIEW | Shelter – MosaicRile

Kaya raya itu harusnya tentram. Paling nggak itulah yang akan dipikirkan hampir seluruh orang. Tapi itu tidak berlaku untuk Elaine. Menyandang gelar Daniswara di belakang namanya saja sudah cukup berat. Apalagi saat mengetahui ibu tirinya menginginkannya mati. Hidup Elaine bak roller coaster. Berlari kesana kemari menghindari kematian, menyusun strategi untuk menyelamatkan ayah dan perusahaan, juga melindungi tersangka yang justru menembak kepalanya.

Shelter, Karya MosaicRile

Judul Buku: Shelter

Author: MosaicRile

Genre: Young Adult

Jumlah: 340 hlm

ISBN: 978-623-94061-9-6

Diterbitkan oleh PT Storial Indonesia Jaya, 2021

Ini memang salah Elaine. Salahnya, terlahir sebagai anak tunggal yang kaya raya. Salahnya, yang sudah digariskan sebagai pewaris Daniswara Group. Salahnya, mengijinkan ayahnya menikah lagi dengan Jeemah. Salahnya, yang justru melindungi Ian Cakra, mantan pengawal pribadinya yang membelot dan memburunya kemana-mana.

Tapi apa salah Elaine juga, jika ia jatuh cinta pada Ian? Saya sebagai pembaca saja bisa terhipnotis saat diksi tentang Ian dituliskan. Gesturnya, nada bicaranya, hingga sepatu Broque hitamnya. Aroma parfum Ian seakan menguar di udara saat membaca part pria itu. Ian memang menyandang predikat terbaik sebagai main leader. Sehingga Hezkiel sebagai second lead tak mampu menyaingi bahkan setengah saja dari pesona misterius milik Ian Cakra.

Dari semula saya memang sudah digiring opini untuk berdamai dengan sikap liar Ian. Pria itu bermain mata dengan Jeemah, saya memaklumi. Pria itu hampir membunuh Elaine berkali-kali, saya memaafkan. Sama seperti kedua wanita itu, hati saya pun sudah direbut sepenuhnya oleh Ian. Yes, I think every woman loves a bad guy like him.

Power Of Women Dalam Shelter

Sejak awal paragraf, saya langsung bisa merasakan kuatnya karakter wanita terpilih. Elaine yang memegang jabatan sebagai tokoh utama digambarkan begitu tegar, juga keras kepala. Beberapa kali dalam adegan, saya menemukan Elaine yang berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri. Bagian ini menjadikan saya cukup terkesan, sekaligus kesal. Rasanya tak masuk akal seorang heroine berjuang sendiri tanpa adanya kaki tangan. Apalagi lawannya setangguh Jeemah, ibu tiri yang luar biasa kejam.

Iya, ini memang perang antar wanita. Perebutan harta, tahta, hingga pria berkedok shelter. Tak ada wanita yang benar-benar lemah dalam buku ini. Nyaris semua wanita hingga tokoh pendamping macam Barbara pun bersifat bebal. Itu semua disuguhkan lewat baku hantam, kejar-kejaran, darah, teriakan, tangis dan sejuta kekerasan yang menguasai hampir setiap adegan dengan alur yang cepat. Jika ada bumbu romansa, itu menjadi check point yang menyegarkan sebelum kembali berpacu adrenalin.

Saya menikmati peperangan mereka sembari terus menganalisis. Kedua karakter wanita ini dianugerahi oleh penulis pikiran yang cerdas. Kamu akan menyaksikan bagaimana masing-masing pihak merancang skenario untuk menaklukkan satu sama lain. Keduanya sama-sama memiliki power dalam menggerakkan tokoh-tokoh pendamping lainnya. Namun tanpa ada para tokoh pendamping pun, Elaine dan Jeemah sudah cukup menonjol. Sesuatu yang jarang saya temui dari novel metro pop sejenis.

Sosok Antagonis Yang Melekat

Jeemah memang tokoh gila yang absolut. Tak ada alasan pasti mengapa ia menginginkan itu semua. Tak ada masa lalu yang kelam, atau pengalaman pahit apa pun yang menjadikan saya berempati terhadapnya. Ia tiba-tiba saja hadir dan menjadi trouble maker di dunia Elaine yang semula baik-baik saja. Tokoh Jeemah memang dirancang untuk membuat semua orang marah. Namun saya justru kagum dengan karakter Jeemah ini. Kejahatannya yang begitu mutlak, menjadikan sosok ini sangat dominan. Pun ketika saya membaca part para tokoh lain, part Jeemah akan menjadi sesuatu yang paling saya nanti.

Jeemah memang lawan tanding yang sebanding untuk Elaine. Wanita itu berkuasa, licik dan liar bagai ular. Beberapa bab yang berisi sudut pandang Jeemah digarap sangat bernyawa. Ia diberi beberapa simbolis tertentu yang pas dengan perannya sebagai tokoh antagonis. Misalnya soal warna merah yang menjadi kesukaan Jeemah. Ini melambangkan keberanian yang sangat sesuai dengan karakter jahatnya. Saking berani dan cerdasnya, Jeemah bahkan bisa menuduh dengan lantang bahwa Elaine tak akan mampu memimpin perusahaan warisan ayahnya. Sesuatu yang juga sejak awal saya ragukan jika berbicara soal Elaine and her real passion.

Salah satu adegan yang paling membekas tentang Jeemah adalah saat kematian suaminya, Taraksa Daniswara. Suasana berkabung membuat Jeemah harus mati-matian menahan sikapnya untuk tidak terbawa gelora pribadinya. Diksi adegan ini ditulis sangat baik dengan menghadirkan 2 nama pria kencannya sekaligus. Saya bisa melihat pikiran liar Jeemah lewat part sederhana ini. Bagaimana wanita itu tetap fokus mencari cara untuk memuaskan hasratnya, meski di tengah suasana yang tak kondusif sekalipun. Ini merupakan sedikit dari banyaknya sifat Jeemah yang melekat di benak saya.

Shelter, Menyaksikan Penggalan Drama Lewat Kata-kata

Bicara soal Shelter, saya sekilas teringat drakor. Bukan hanya karena cover-nya yang menampilkan gambaran Ian bersama Elaine, namun juga teknik penulisan itu sendiri memang terasa hidup. Interaksi para tokohnya dituliskan secara runut dan detail, sehingga membacanya pun terasa bagai menonton penggalan drama. Semuanya dilakukan dengan cermat baik setting tempat, waktu, alur, hingga pengembangan karakter pada tiap aktornya.

Itu belum termasuk hal-hal menarik lainnya. Seperti makna tato ditubuh Ian yang ternyata berhubungan dengan kalung Elaine. Atau beberapa adegan flashback Elaine semasa kecil dengan bocah berpayung hitam, yang kerap membuat penasaran. Semuanya diletakkan secara acak dalam beberapa fragmen terpisah. Meskipun kita bisa menebak kemana ujung permasalahan ini, kita akan tetap terkesan ketika mendapati fakta saat satu demi satu informasi itu terkuak.

Shelter, Penggalan Drama Lewat Kata-kata

Yang tak kalah menarik adalah rancangan strategi Elaine untuk mematahkan kekuasaan Jeemah. Kita secara tak langsung akan ikut belajar, bagaimana sebuah kasus perebutan harta warisan itu rupanya tidak semudah kedengarannya. Perlu proses yang panjang, bukti yang akurat, juga timing yang tepat untuk menyelesaikan itu semua. Peran Elaine memang di uji saat memasuki babak konflik itu. Dan seolah memang ini semua sudah dipikirkan matang-matang oleh penulis, Elaine lalu dibantu beberapa tokoh pendamping yang memang mumpuni dibidangnya. Walau seringkali terasa asing dengan pembicaraan tertentu, sedikit banyak hal ini akan menambah wawasan kita tentang rumitnya dunia bisnis yang sedang dijalani oleh Elaine.

Akhir dari itu semua terjawab ketika Elaine lagi-lagi bersikukuh untuk melindungi Ian Cakra dari kejahatan dan bersikeras menghapus namanya dari kasus tersebut. Keputusan ini semakin menegaskan satu fakta penting kepada saya. Sejak semua Elaine tak pernah berniat lari dari masalahnya. Elaine justru kembali untuk menjadi shelter bagi Ian yang sempat kehilangan arah.

This Post Has 2 Comments

  1. Terima kasih banyak untuk ulasan yang sangat lengkap dan apresiasinya terhadap buku Shelter. Sampai bertemu lagi di karyaku yang lain, Kak Ayi! ❤️

    1. terima kasih juga sudah mempercayakan saya mengulas buku ini. Tetap semangat dan jangan pernah berhenti menulis ya. Pasti saya akan tunggu karya kakak lainnya 🙂

Leave a Reply

Close Menu
%d bloggers like this: