Mengulas Buku, Segera Atau Nanti?

Selain sebagai pembaca, saya juga gemar mengulas buku (book reviewer). Buku-buku itu, yang saya tulis ulasannya, pastilah yang sudah selesai dibaca. Namun terkadang saya tak langsung menulis ulasan saat itu juga. Mengapa demikian? Bagi saya, menilai satu karya seni itu tidaklah sembarangan. Perlu berpikir lebih jernih juga menyisihkan banyak hal, sebelum memberi penilaian terhadap karya orang lain.

Buku Adalah Karya Seni

Karya seni? Iya, buku-buku yang kamu genggam itu, yang jalan ceritanya memukau atau terkadang membosankan untukmu, membutuhkan ratusan tahap sebelum sampai ke tanganmu. Ada tahap saat penulis harus melamun berhari-hari memikirkan tiap adegan di benaknya. Ada tahap saat penulis harus menangis, membangkitkan momen menyakitkan dalam dirinya demi membangun karakter antagonis pada tokoh. Ada tahap ketika penulis terjaga di setiap malam, merangkai kata demi kata terbaik, menyuarakan hasil pikirannya. Itu semua belum ditambah proses editing, produksi, marketing, promosi dan seabrek tugas lainnya.

Jadi pantaskah kita menilai karya itu sekilas saja tanpa menguliknya lebih dalam? Saya rasa tidak.

Mengapa Perlu Mengulas Buku?

Sama ketika kita membuat ulasan suatu film atau produk, mengulas buku pun punya tujuan tertentu. Baik untuk penulis maupun pembaca, ulasan ini pastilah bermanfaat bagi keduanya serta orang-orang yang terlibat dalam proses berkarya.

Manfaat Menulis Resensi

Karena itulah, tak jarang para penulis atau penerbit mengadakan undian buku gratis bagi pembacanya dengan syarat mampu menulis ulasan. Hadiah yang diberikan biasanya berupa buku terbitan baru atau buku terlaris saat itu. Selain melalui undian, ada pula reviewer yang memang ditunjuk langsung oleh penulis untuk memberi tanggapan terhadap karya mereka. Para kandidat ini biasanya memiliki faktor-faktor tertentu yang membuat penulis tertarik bekerja sama dengan mereka. Misalnya mempunyai portfolio ulasan yang detail, konsep fotografi yang bagus, hingga jumlah follower yang banyak. Yang terakhir ini berkaitan dengan beberapa platform sosial media dan aplikasi, yang akan saya bahas pada artikel selanjutnya.

Sebelumnya, mari kita rangkum beberapa alasan mengapa mengulas buku itu penting:

1. Bentuk apresiasi terhadap karya penulis

Cara termudah untuk mengapresiasi karya orang lain adalah dengan memberikan opini terkait karya tersebut. Opini ini, baik yang berupa saran maupun kritik, akan berguna untuk penulis dalam mengembangkan karya mereka selanjutnya.

2. Membantu promosi karya penulis

Resensi buku yang dipajang dalam platform sosial media ataupun blog juga turut sebagai media promosi karya penulis. Bukan tak mungkin orang lain berkeinginan untuk membeli buku sejenis setelah membaca ulasan kita.

3. Merekam pengalaman berharga saat proses membaca

Siapakah tokoh yang paling kamu suka? Manakah adegan favoritmu? Bagaimana konflik itu diselesaikan? Kamu perlu menuliskannya pada catatan agar pengalaman membaca buku tersebut terus hidup dalam ingatan.

4. Sarana belajar menulis bagi pembaca

Ingin menjadi penulis namun tak tahu mulai dari mana? Coba dulu membuat ulasannya. Saat kamu sedang mengulas itulah kamu akan menemukan insight menarik dari tiap buku yang kamu baca. Misalnya kerangka cerita, jumlah tokoh, setting tempat atau alur waktu kejadiannya. Semua ini akan bisa kamu jadikan riset untuk mengetahui bagaimana cara menelurkan suatu karya tulis yang berkualitas.

5. Media terapi berpikir dalam

Perhatikan teknik penulisannya. Atau coba cari referensi bacaan yang penulis cantumkan dalam karyanya. Unsur sejarah apa yang diangkatnya? Budaya apa yang ingin dipaparkan olehnya? Oh ternyata menulis buku ini tak semudah kelihatannya ya.

6. Merangsang produktifitas dan disiplin

Karena menulis ulasan juga memerlukan satu waktu tertentu, kita perlu mengatur jadwal dan mengosongkan beberapa jam. Jika ini terus menerus dilakukan teratur di tiap minggunya, akan jadi satu kebiasaan bagus yang mengasah produktifitas juga disiplin diri kita.

Seberapa Dalam Saat Mengulas Buku?

Prefensi soal kedalaman ini pastilah berbeda-beda pada masing-masing pembaca. Ada pembaca yang mengutamakan jalan cerita serta penyelesaian konflik. Ada pembaca yang meneliti hingga pada teknik penulisannya. Ada pembaca yang fokus membedah karakter tiap aktornya. Pun ada pembaca yang hanya minta dihibur lewat buku-buku yang tengah dibacanya. Bebas. Ini semua memang terserah pembaca.

Merangkum Pengalaman Berharga Saat Membaca

Namun, tetap saja ada beberapa hal dasar soal menulis ulasan yang perlu diperhatikan oleh pembaca. Seperti beberapa poin umum di bawah ini:

1. Selalu cantumkan Data Buku di tiap artikel resensi, seperti:

  • Judul buku
  • Pengarang
  • Penerbit
  • Tahun terbit beserta cetakannya
  • Tebal buku
  • Harga buku (opsional)
  • ISBN (opsional)

2. Pilih kalimat pembuka resensi yang menarik

Bisa juga membuka paragraf pertama dengan mengambil sebagian blurb dari buku tersebut. Namun jangan sajikan terlalu banyak spoiler di awal ulasan.

3. Isi resensi buku dengan beberapa hal

Tak perlu semuanya, namun kira-kira inilah yang perlu dibahas saat menulis resensi buku:

  • alur cerita dan setting
  • sudut pandang tokoh
  • konflik dan penyelesaiannya
  • teknik penulisan
  • budaya atau latar yang diambil penulis

Bisa juga menambahkan comparism satu karya dengan karya yang lainnya untuk mengambil persamaan atau perbedaan dari 2 karya tersebut.

4. Kelebihan atau kekurangan Buku

Opini pribadi tentang kelebihan dan kekurangan karya ini bersifat opsional. Namun jika harus menuliskan kekurangan sebuah karya, gunakan kalimat pengalihan yang lebih wajar dan tawarkan pula solusi permasalahannya.

5. Kepada siapa buku ini ditujukan?

Beberapa buku biasanya sudah mencantumkan genre atau rentang usia pembacanya. Tambahkan rekomendasi grup, kalangan atau siapa saja kah yang perlu mengakses bacaan ini.

6. Penutup resensi buku

Gunakan kalimat penutup resensi yang berhubungan dengan buku tersebut. Bisa pula cantumkan satu atau dua quotes yang di ambil dari novel yang sedang kamu ulas.

Kapankah Waktu Terbaik Mengulas Buku?

Beberapa waktu lalu saya mengadakan polling melalui story Instagram. Saya melempar pertanyaan apakah para reviewer pernah menunda menulis ulasan satu buku (seperti saya), ataukah tidak sama sekali. Hasilnya di luar dugaan saya. Sebanyak 90% responden memilih untuk menunda ulasan mereka, sedangkan 10% sisanya selalu melakukannya tepat waktu. Perbedaan persentase ini memberi saya gambaran, bahwa tak melulu ulasan sebuah buku harus segera di submit tepat setelah merampungkan bacaan.

Lantas apa alasannya? Rata-rata jawaban mereka soal kendala waktu. Tak bisa dipungkiri, aktivitas harian yang padat terkadang sudah menguras energi sehingga menulis ulasan menjadi hal yang cukup berat apalagi jika dilakukan di penghujung hari. Iya, membuat satu ulasan serius tak hanya serta merta menulis di atas kertas, namun perlu juga mempersiapkan banyak hal khususnya bagi bookstagrammer (blogger buku via Instagram). Mereka bahkan perlu meluangkan satu waktu tertentu untuk melakukan setting properti, memilih tempat, mengatur latar, juga menyesuaikan pencahayaan sekitar, demi mendapatkan satu foto terbaik yang akan menunjang ulasan buku tersebut.

Beberapa responden lainnya turut menambahkan alasan terkait jalan cerita yang tidak sesuai ekspektasi sehingga menurunkan minat membuat ulasan. Ada pula yang menunggu emosi lebih stabil sebelum menulis suatu review. Seperti saya yang perlu menjernihkan pikiran barang 2 atau 3 hari dulu agar bisa lebih objektif dalam memberi penilaian pada karya. Rentang waktu ini saya rasa masih relevan sehingga vibes bacaan pun masih segar di ingatan.

Akan tetapi ada buku-buku khusus yang tidak boleh ditunda dalam membuat ulasannya. Misalnya, buku yang sudah terikat kerja sama dengan penulis, buku yang akan jadi topik pembahasan saat webinar (seminar online), atau buku yang disertakan dalam kontes reading challenge dengan tenggat deadline tertentu.

Memaksimalkan Daya Saat Menulis Ulasan

Setelah sebelumnya kita mengerti tentang pentingnya book reviewer, kini saya ingin membagikan beberapa tips kecil yang bisa membantumu saat membuat ulasan:

  1. Membuat jadwal baca per bulan dan mulailah dari genre buku yang kamu suka.
  2. Selalu bawa booksleeve yang berisi buku, notes kecil, dan pulpen. Kamu bisa mencatat ide yang muncul di mana saja, kapan saja.
  3. Sediakan waktu 1 hari dalam seminggu untuk menjepret cover buku tersebut. Lakukanlah pada siang hari untuk mendapat hasil pencahayaan yang maksimal.
  4. Menyisihkan waktu 1 jam sehari untuk menyicil tulisan tentang ulasan buku.
  5. Cobalah membuat art journal bertema resensi buku.
  6. Atur jadwal posting ulasan pada blog, booktube, juga sosial mediamu. Cobalah mulai dengan 1 hingga 2 kali posting per minggunya.
  7. Jika buku kerja sama, buat kesepakatan soal waktu deadline terlebih dahulu kepada penulis atau penerbit.
  8. Tak lupa, jalin pertemanan dengan sesama book reviewer untuk memantik semangat saat melakukan aktivitas ini.

Terlepas dari itu semua, kita perlu menyepakati satu hal jika bicara soal resensi buku. Kegiatan membuat ulasan buku ini, meski terkesan sederhana, rupanya ber-impact besar terhadap insan penerbitan dan masyarakat luas. Para book reviewer secara tak sadar turut menghidupkan kembali minat membaca yang sempat surut. Jika kebiasaan membaca terus subur, maka bisnis penerbitan akan selalu jalan. Akan selalu ada calon penulis-penulis baru di masa mendatang. Akan selalu ada buku-buku bagus dengan berbagai topik, yang akan mengisi catatan sejarah pustaka kita.

Karena itulah mari menulis ulasan di tiap buku-buku yang sudah kamu baca. Lakukan sungguh-sungguh untuk menyebarkan semangat literasi pada generasi selanjutnya.

Leave a Reply

Close Menu
%d bloggers like this: