The Great Gatsby: Mimpi dan Obsesi

Hati-hati dengan euforia yang terhenti. Kesenangan yang tercipta pada satu momen tertentu, sering kali membekas terlalu dalam tanpa kita sadari. Seperti The Great Gatsby. Belum sempat terbangun, ia mengubahnya menjadi obsesi. Mengacau hidupnya sendiri demi tetap terbuai mimpi.

Gatsby tenggelam dalam kemudaan dan misteri kekayaan yang menjerat dan memikat… dan tenggelam karena Daisy yang mengilap bagaikan perak, di atas perjuangan keras kaum miskin.

hlm 217

BOOK REVIEW | The Great Gatsby – F. Scott Fitzgerald

Istananya megah dan besar. Pesta musim panasnya mewah. Tamunya tokoh-tokoh penting ternama. Semua kemeriahannya terdengar hingga ke jendela rumah Nick. Namun sampai dua bab pertama, Nick Carraway belum pernah bertatap muka dengannya. Nama pria itu seliweran di meja makan saat ia berkunjung ke rumah Daisy, sepupunya. Terucap sekali lagi ketika ia menemani Tom Buchanan bermain mata dengan wanita lain. Gatsby. Namanya selalu meninggalkan kesan tersendiri setiap kali terlontar di udara.

Wajar kalau Nick penasaran. Saya pun pembaca sudah berdebar sejak awal ketika pria itu disebut berulang kali. Sehebat apa ia sampai harus menyandang kalimat The Great Gatsby?

the great gatsby versi gramedia

Judul Buku: The Great Gatsby

Author: F. Scott Fitzgerald

Genre: Roman Klasik

Alih Bahasa: Maria Masniari Lubis

Jumlah: 264 hlm

ISBN: 978-602-03-0880-7

Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, 2014

Penantian itu terbayar lunas di sebuah pesta megah. Saat Nick menerima undangan untuk bertandang pertama kalinya ke istana mewah Gatsby. Sesuai dengan perannya sebagai tokoh utama, kemeriahaan acara ini, yang dtuliskan dengan detil yang memukau, membuat saya menjadi mahfum. Bak influencer masa kini, pria itu digambarkan sangat gagah, tampan, dengan tutur kata yang terstruktur secara matang. Juga senyum khasnya yang istimewa, selalu meninggalkan pesona tersendiri. Intinya kemunculan perdana Gatsby begitu menjanjikan. Dan tak heran jika kemudian saya dan Nick banyak memihak sepenuhnya pada setiap tindakan pria itu.

senyuman itu memahamimu sejauh kau ingin dipahami, memercayaimu sejauh kau ingin memercayai dirimu sendiri, dan meyakinkanmu bahwa senyum itu memiliki kesan yang tepat yang, pada kondisi terbaikmu, ingin kaunyatakan.

hlm 74-75

Gagasan American Dream

Lewat POV Nick, saya berkenalan tak hanya pada sosoknya sekarang, tapi juga dirinya dimasa lalu. Buku ini rupanya lebih dari sekedar kisah perjalanan hidup seorang pria keren bergelimang kemewahan. Banyak pesan tersembunyi yang nantinya ingin dituntaskan Gatsby lewat peran Nick. Salah satunya gagasan American Dream era 1920an.

American Dream adalah satu kepercayaan bahwa setiap orang, terlepas dari suku, ras, gender, status sosialnya, akan bisa sukses di Amerika jika mereka bekerja keras. Hal ini sesuai dengan tahun pertama kali ketika novel ini dipublikasikan. Amerika saat itu berada dalam masa pembangunan besar-besaran dan menjanjikan banyak kesuksesan bagi para pendatang.

Tak hanya Gatsby, beberapa tokoh dalam novel ini juga merepresentasikan konsep American Dream ini. Salah satunya suami istri Wilson yang berasal dari kelas menengah. Lewat beberapa percakapan George Wilson dengan Tom Buchanan, saya menangkap keinginannya untuk menaiki kelas sosial yang lebih tinggi dengan membeli mobil milik Tom (saat itu memiliki kendaraan model terbaru juga jadi parameter kesuksesan seseorang). Skandal Myrtle Wilson dengan Tom Buchanan juga turut mempertegas gagasan ini. Myrtle yang berkeinginan hidup nyaman, rela merendahkan martabatnya menjadi simpanan Tom demi uang.

Hubungan asmara tokoh Nick dan Jordan Baker pun juga berirama senada. Interaksi keduanya bagai simbiosis mutualisme. Meski beberapa part asmara kerap dituliskan, namun saya melihatnya hanya sebagai pendongkrak status sosial semata. Saya tak bisa menuduh bahwa Jordan memilih Nick karena pria itu masih kerabat Buchanan. Tetapi saya setuju dengan sikap Nick untuk menjauh sebentar dari semua kegilaan American Dream ini, usai berkaca dari kasus Gatsby.

Obsesi dan Mimpi Gatsby

Saya terbuai. Saat kisah masa lampau itu disenandungkan lewat cerita Jordan. Saat Nick dengan tekadnya membantu Gatsby meraih mimpinya. Saat kegagahan pria itu luluh lantak ketika bertemu pujaan hatinya, Daisy. Sungguh saya sempat merasa dunia tidak adil terhadap Gatsby.

Namun dunia yang mana? Dunia seperti apa yang Gatsby maksud? Ketika kedua kalinya saya membaca diksi mimpi-mimpi ini, saya pun tersadar akan satu hal. Impian Gatsby itulah wujud American Dream yang sesungguhnya. Kilas balik ketika saya membaca beberapa part soal masa lalunya, berulang kali pula ditegaskan bahwa Jay Gatsby sebenarnya berasal dari keluarga miskin. Ia tak suka dan membuang latar belakangnya itu. Lalu sejak muda, ia merajut dunia ideal versinya sendiri. Dunia yang penuh kebanggaan, kemewahan serta kekayaan lewat American Dream.

Suaranya menggambarkan uang — itulah pesona dahsyat yang muncul yang memenuhi suara Daisy, bagaikan ada dentingan di dalamnya, nyanyian… Tinggi di atas menara raja tempat sang putri berada… gadis berambut keemasan…

hlm 176.

Itulah mengapa harus ada istana megah dengan pantai pribadi, pesta-pesta meriah, para tamu tokoh-tokoh penting, mobil keren keluaran terbaru, hingga adegan pamer seluruh baju-baju buatan desainer. Yang terjadi pada Gatsby adalah impian tiap orang dimasa itu. Kenyamanan dan kekayaan yang memberikan euforia tersendiri. Yang membuat ketagihan hingga menipu diri. Yang menjerit marah ketika itu semua terhenti.

Lewat diksinya saya mulai paham bahwa posisi Gatsby tidaklah sekuat yang saya kira. Ia butuh kamusflase kemewahan itu semua untuk terlihat kaya. Pun kiranya saat ia memilih Daisy sebagai targetnya, itu bukan tanpa sebab yang biasa. Gatsby menjadikan Daisy sebagai titik utama pencapaiannya. Gatsby ingin berada di dunia Daisy berpijak dan percaya bahwa wanita itulah pemegang kunci dari segala obsesi dunia khayalannya.

Ketika Daisy melebur lagi ke dalam impian-impiannya– bukan karena kesalahan Daisy sendiri, tetapi karena ilusi Gatsby yang begitu kolosal. Ilusinya telah melebihi keberadaan Daisy, melebihi segalanya.

Gatsby telah menenggelamkan diri ke dalamnya dengan hasrat kreatif, terus mengembangkannya sepanjang waktu, menghiasinya dengan setiap bulu berwarna terang yang melayang ke arahnya.

hlm 141.

Bagai lampu hijau yang berpendar di ujung pantai, Daisy adalah simbol harapan untuk Gatsby dalam meraih mimpi-mimpinya.

The Great Gatsby dalam Cinema

Mengingat buku ini sangat populer pada jamannya, beberapa sineas menggarap serius kisah Gatsby lewas sinematik. Berikut 2 adaptasinya dalam film yang bisa kamu simak:

1. Adaptasi tahun 2000

Yang pertama film The Great Gatsby (2000) yang dibintangi oleh beberapa aktor ternama saat itu. Tak bisa dipungkiri Toby Stephens sebagai Gatsby berhasil merebut hati saya lewat pesonanya. Apalagi saat ia menunjukkan senyum lebar khasnya ala Gatsby. Mimik sederhana ini mampu menyimpan sejuta misteri yang nantinya akan terkuak satu persatu.

cover film The Great Gatsby 2000
Image Source: Amazon.com

Meski saya kurang menyukai tokoh Daisy, namun adaptasi ini mengambil adegan lebih akurat berdasar bukunya. Yang paling membekas adalah saat kehadiran putri Daisy di tengah pembicaraan mereka, yang turut membuat raut wajah Gatsby terkesan janggal. Hal ini memberikan reaksi realistis serta clue pada penonton soal mimpi muluk pria itu terhadap Daisy.

Peran Nick juga terlihat lebih manly sesuai dengan karakternya pada buku. Ia tak hanya sebagai penonton polemik hidup keluarga Buchanan semata, namun mampu menunjukkan posisinya sebagai pion penting yang berpengaruh terhadap keseluruhan cerita.

2. Adaptasi tahun 2013

Bicara soal film ini, pikiran saya langsung tertuju pada 4 menit adegan pestanya. Ya, The Great Gatsby (2013) berhasil menunjukkan sisi American Dream dengan nuansa lebih glamor. Simak saja kostum-kostum meriah, aneka hidangan mahal, para dancer yang menari di lantai dansa, hingga ledakan kembang api diiringi penggalan lagu orkestra saat kemunculan perdana Gatsby. Sisi kemewahan film ini benar-benar mendapat porsi dominan, sehingga menyaksikannya berkali-kali tak akan menjemukan.

poster film The Great Gatsby 2013
Image Source: moviesanywhere.com

Peran Leonardo sebagai Gatsby pun tak bisa dibilang sederhana. Meski ia tak mampu menunjukkan senyum ala Gatsby nya, namun gestur aktor ini saat beradu akting dengan Daisy akan berhasil membuat kita meleleh. Tanpa sadar kita akan digiring rasa marah pada semua tokoh antagonis ketika melawan Gatsby. Pun tokoh Daisy yang semula bak bunga bermekaran, akan kita hukum saat ia berpaling dari pria itu.

Semua ini memang dirancang agar kita memihak Gatsby, sehingga beberapa adegan perlu dihilangkan dari film. Seperti putri Daisy yang sengaja ditiadakan, atau romansa Nick dan Jordan yang tidak banyak dibahas. Seluruh fokus kita akan terpaku pada drama antara Gatsby dan Daisy saja, dengan tanpa menghilangkan kesan American Dream nya.

adegan Gatsby dan Daisy dalam The Great Gatsby 2013
Image Source: IDN Times

Namun menyaksikan kedua film ini masihlah meninggalkan tanda tanya besar jika tidak dibarengi dengan bukunya. Membacanya pun terasa kurang lengkap, jika tidak berhasil menemukan makna yang terkandung dalam kisah tragis ini. Seberapa hebat kisah ini adalah ketika ia mampu memberikan pemikiran serta insight baru pada setiap proses re-read. Semuanya tak berhenti hanya pada American Dream dan obsesi Gatsby.

Dan jika boleh saya menebak, tokoh utamanya dibuat terpuruk di akhir untuk menegaskan gagasan liar ini: mimpi Amerika hanyalah mimpi. Seharusnya Gatsby sadar dan bangun, sebelum mimpi itu menjadi buaian yang memaksanya jatuh hingga tak mampu melangkah lagi.

Leave a Reply

Close Menu
%d bloggers like this: