Membedah Surat Mr. Darcy dalam Pride and Prejudice

Rasanya saya sudah berulang kali membaca buku Pride and Prejudice ini dan tak pernah bosan. Entah karena para tokohnya yang sudah melekat di memori saya, sejarahnya yang menarik disimak, serta garis besar ceritanya yang mendebarkan, saya justru seringkali menemukan hal-hal baru saat proses re-read. Seperti kali ini saat Elizabeth membaca surat dari Mr. Darcy, saya mendapat beberapa insight baru yang menarik untuk dibahas. Sudahkah kamu menemukannya pula?

Tapi aku membenci kebohongan dalam bentuk apapun. Dan aku pun tidak malu karena sudah mengutarakan perasaanku kepadamu. Semua ini benar dan nyata.

Mr. darcy

BOOK REVIEW | Pride and Prejudice – Jane Austen

Seperti kebanyakan orang, mereka pasti hanyut dengan kisah cinta Pride and Prejudice karya Jane Austen yang legendaris ini. Adalah Elizabeth, putri tertua kedua keluarga Bennet yang belum juga menikah ketika usianya menginjak 21 tahun. Isu ini menjadi permasalahan yang kerap kali digaungkan oleh Ibunya, Mrs. Bennet, di kediaman mereka di Longbourn. Itulah sebabnya saat tersiar kabar bahwa Netherfield telah disewa oleh seorang pemuda tampan kaya, Mrs. Bennet buru-buru meminta suaminya berkunjung ke sana. Mr. Bennet demi menjalankan perintah istrinya, akhirnya mendapat undangan resmi pesta dansa dari Netherfield. Ia pun memboyong semua istri dan kelima anaknya untuk menyambut kedatangan tamu tampan yang jadi pembicaraan seantero kota tersebut. Lantas akankah Elizabeth jadi dilamar oleh pemuda idaman itu?

Judul Buku: Pride an Prejudice (1813)

Author: Jane Austen

Genre: Klasik Roman

Jumlah: 523 hlm

ISBN: 978-602-1142-17-2

Diterbitkan oleh Shira Media , 2014

Bukan Elizabeth tentunya orang yang beruntung itu. Aturan etika di jaman itu mengharuskan pernikahan putri tertua terlebih dahulu sebelum disusul oleh adik-adiknya. Dan putri tertua keluarga Bennet lah, Jane, yang mendapat perhatian sepenuhnya dari Mr. Bingley. Hal ini sepadan mengingat Jane digambarkan sebagai sosok yang cantik luar dalam dengan hati yang tulus. Meski konflik kerap datang dalam hubungan pasang surutnya dengan Mr. Bingley, tak menyurutkan semangat Jane untuk terus berprasangka baik terhadap masa depannya. Yah.. Jane memang sosok Heroine yang patut diberi predikat yang baik-baik, meski sesungguhnya saya merasa orang seperti Jane dalam kehidupan nyata banyak disebut sebagai sosok yang naif alih-alih lugu. Penerimaannya yang terlalu positif justru tidak wajar karena dunia ini tak seramah apa yang ada dibayangannya.

“… Jangan menganggap siapa pun sengaja menyakiti kita… Seringkali kekerasan hati kita sendirilah yang menipu kita..”

“… Aku tidak tahu apakah memang ada begitu banyak siasat buruk di dunia ini, sebagaimana yang dibayangkan sebagian orang.”

Jane Bennet, hlm 189.

Itulah kenapa bukan Jane yang menyandang predikat tokoh utama dalam Pride and Prejudice. Tetapi Elizabeth lah yang memegang peranan tersebut. Tabiatnya yang ceria, terbuka serta spontan lebih masuk akal ketimbang kelewat berperangai halus macam Jane, kakaknya. Ia memang tidak mendapatkan perhatian dari Mr. Bingley. Namun justru sahabat pria itulah yang memendam kekaguman pada sosok Elizabeth. Mr. Darcy, pria yang oleh setiap penduduk desa dianggap murung, angkuh juga congkak, menjadikan Elizabeth sebagai pujaan hatinya sekian lama meski gadis tersebut justru menampiknya. Elizabeth kiranya termakan prasangkanya sendiri sehingga dengan gampangnya memvonis karakter buruk Mr. Darcy tanpa tahu kenyataan.

“.. tingkah lakumu yang mencoba memikatku dengan keangkuhanmu yang memuakkan, tipu dayamu dan sikap acuh tak acuhmu kepada orang lain, semua itu menjadi landasan kebencianku kepadamu..”

“Bahkan kalaupun kau bersikap layaknya seorang lelaki terhormat, aku masih akan tetap menolakmu.”

Elizabeth, hlm 263.

Mengenali Karakter Tokoh Lewat Isi Surat Mr. Darcy

Apa yang sebenarnya ingin Austen sampaikan lewat kisah Pride and Prejudice? Saya sudah sampai di penghujung babak dua, saat surat Mr. Darcy menjawab seluruh keraguan Elizabeth akan karakternya. Adegan ini memang kesukaan saya. Karena tulisan panjang pada surat tersebut rasanya mengandung makna jamak yang tak hanya khusus untuk Elizabeth semata.

Pertama, tujuan surat kepada Elizabeth pada era tersebut bisa dikategorikan lancang, mengingat mereka tidak ada keterikatan khusus. Pria-pria pada jaman itu lebih banyak berkirim surat kepada wali mereka, ibu atau bibi, dan lantas menitipkan salam kepada gadis yang disukainya. Atau bisa pula yang melakukan korespondensi ialah antara sesama wanita, misalnya adik sang pria dan gadis incarannya. Namun mengingat topik yang dibahas antara keduanya cukup intim, Mr. Darcy tak mungkin mengirim surat itu selain langsung kepada Elizabeth. Jadilah dalam hal ini semua pembaca akan merasa mahfum.

Kedua, cara Mr. Darcy membenarkan tuduhan Elizabeth disampaikan dengan rendah hati. Pria tersebut memang menyalahkan dirinya sendiri, namun juga menyampaikan pandangannya terkait masalah ini. Dengan amat hati-hati ia berkata bahwa keluarga besar Elizabeth punya perangai buruk yang amat tak layak di mata masyarakat, seperti gemar bergunjing, dan mengincar harta semata. Ini sesuai dengan karakter Mrs. Bennet yang mata duitan dan mengharapkan Jane untuk segera menikah dengan Mr. Bingley agar kaya raya.

Mr. Darcy juga menyinggung tabiat adik-adik Elizabeth yang termuda yang gemar bergenit ria pada para prajurit. Ini dinilai tidak patut mengingat semua adik Elizabeth memang seharusnya belum boleh menampilkan diri di masyarakat sebab kakak-kakak tertua mereka yang belum menikah. Tak luput, Mr. Darcy juga menambahkan Mr. Bennet dalam jajaran tersebut. Yang membuat saya menggali apa sebabnya kepala keluarga Bennet justru terseret dalam kategori kurang hormat pada pandangan Mr. Darcy.

Dia juga berusaha untuk tidak memusingkan ketidakadilan yang kerap dilakukan oleh ayahnya dalam pernikahannya, mengolok-olok Mrs. Bennet di hadapan anak-anaknya.

… dia menyadari sepenuhnya dampak yang bisa muncul dari pembawaan ayahnya yang kurang bijaksana, pembawaan yang apabila dimanfaatkan di jalan yang benar, mungkin akan memberi paling tidak teladan yang baik kepada putri-putrinya.

pandangan Elizabeth akan ayanya, Mr. Bennet, hlm 320.

Saya tak ingin membela Mr. Bennet, karena justru Austen sendiri akhirnya memaparkan sikap miringnya itu pada bab-bab selanjutnya. Sebagai pimpinan rumah tangga, Mr Bennet dianggap gagal karena tak mampu menyetir perahu keluarganya. Caranya yang acuh dan mengurung diri di perpustakaan dianggap tidak tepat, meski kebanyakan orang pastilah lebih mudah menyalahkan Mrs. Bennet yang serampangan. Sikap istrinya yang seenaknya, saya rasa akibat dari suaminya yang tak peduli terhadap nasib keluarga mereka. Jika pria-pria terormat lainnya justru punya kesibukan, Mr. Bennet hanya dibebani buku-buku perpustakaannya tanpa suatu penghasilan materi yang berarti.Itulah saya rasa sebabnya, mengapa Mrs. Bennet menjadi mata duitan. Mrs. Bennet membesarkan putri-putrinya dengan terus berharap kelayakan materi yang tak ia dapatkan dari suaminya.

Asumsi saya ini diperkuat oleh pilihan Mr. Darcy yang lebih nyaman berkomunikasi dengan Mr. Gardiner, paman Elizabeth, saat kasus Lydia, daripada dengan Mr. Bennet. Agaknya Mr. Darcy pun merasa Mr. Bennet kurang mumpuni dalam menangani masalah-masalah besar, akibat kemalasannya dalam berusaha yang telah mengakar sejak lama.

Ketiga, penyampaian Mr. Darcy perihal karakter asli Mr. Wickham. Ini adalah alasan utama mengapa surat tersebut memang sebaiknya langsung berada di tangan Elizabeth. Yang ia sampaikan merupakan aib yang sebaiknya ditutupi. Dan tak wajar rasanya jika Mr. Darcy menyebarkan aibnya sendiri meski dengan alasan sopan santun. Lagi pula belum tentu orang ketiga selain Elizabeth bisa menutup mulutnya tanpa menggembar-gemborkan masalah ini ke publik. Saya sepakat saat Mr. Darcy memilih membongkar watak asli Mr. Wickham melalui suratnya. Bukan untuk terkesan heroik, tapi tabiat asli Mr. Wickham yang berbahaya patut di sampaikan kepada khalayak agar lebih banyak orang yang waspada dan tidak terbujuk rayuannya.

Keempat, adalah cara Mr. Darcy membenarkan cerita yang ia tulis dalam surat dengan menyebut-nyebut nama Kolonel Fitzwilliam sebagai saksi. Karenanya semua kisah ini tak akan valid tanpa adanya saksi mata dari pihak terdekat. Mr. Darcy pada detik itu seolah sedang mempertaruhkan harga dirinya sendiri, sekaligus balik menilai pribadi Elizabeth saat menerima surat tersebut.

Pribadi Elizabeth Dipertaruhkan Lewat Surat Mr. Darcy

Tindakan Elizabeth terhadap surat ini, dianggap penting untuk dinilai. Itulah mengapa, kehormatannya turut dipertaruhkan saat Mr. Darcy menilainya dalam dua kemungkinan.

Kemungkinan pertama, jika wanita tersebut sesuai arahannya meminta konfirmasi Kolonel Fitzwilliam terkait kasus yang menimpa adiknya, Miss Darcy, maka Elizabeth bisa jadi dinyatakan tidak mempunyai pendirian yang kuat dan pikiran yang jernih sehingga tak bisa menilai sendiri kebenaran cerita tersebut tanpa bantuan orang lain. Lagi pula sudah pasti, Kolonel Fitzwilliam akan mengetahui kejadian penolakan dirinya kepada Mr. Darcy, yang tentu saja melukai martabat lelaki tersebut.

Namun agaknya, pengembangan karakter ini tak boleh terus menyimpang dari yang seharusnya. Ini sudah dipikirkan matang-matang oleh Austen, sehingga Elizabeth memilih pilihan yang lain.

Kemungkinan kedua, yang lebih bijaksana, diambil oleh Elizabeth. Ia menutup rapat-rapat mulutnya, menerima sepenuhnya informasi isi surat tersebut dan membenarkannya sendiri melalui pengamatan pribadinya terdahulu saat berjumpa dengan Mr. Wickham.

Dia baru menyadari bahwa sejatinya Wickahm bermulut besar, gemar mengumbar dan membesar-besarkan cerita dan banyak di antara ucapannya yang bertolak belakang dengan tingkah lakunya.

… bahwa Mr. Darcy akan pergi dari desa, sedangkan dia akan bertahan disana, namun Wickham sendirilah yang tidak menghadiri pesta dansa Netherfield pada pekan selanjutnya.

renungan Elizabeth, hlm 281.

Akhir Pride and Prejudice Ini Berawal Dari Surat Tersebut

Sesudahnya, cerita ini mengalir sepenuhnya sesuai dengan yang kita semua harapkan dan berakhir indah. Namun, jika boleh menimbang, kalau saja saat itu Mr. Darcy tak pernah melayangkan surat pembelaan kepada Elizabeth, pastilah tak ada adegan romansa serta heroik lainnya. Tak ada perubahan suasana hati Elizabeth ke arah yang lebih baik, juga tak akan ada kunjungan ke Pemberley yang meninggalkan kesan manis.

Surat ini bolehlah jika saya katakan sebagai nafas dari keseluruhan kisah mereka. Surat ini begitu penting wujud dan inti sarinya untuk bisa menikmati karakter tiap tokoh tanpa lagi menghakimi satu sama lain. Dan surat ini, di tengah banyaknya modern re-telling, mempunyai nuansa khas klasik berkelas Pride and Prejudice, yang tak akan mampu dibangkitkan pesonanya pada berbagai kisah versi modern mana pun.

Pantaslah jika surat ini kemudian mempunyai penggemar tersendiri. Dalam live action-nya pun, adegan pembacaan surat selalu menjadi plot twist yang di nanti. Apalagi untuk kita yang sudah terlanjur kepincut tokoh salah sejak awal, surat ini menjadikan kita untuk merenung ulang presepsi kita terhadap tokoh utama. Persis seperti yang diharapkan oleh Mr. Darcy. Ia ingin Elizabeth dan kita pembaca, menarik semua tuduhannya akan karakternya. Walaupun tetap ada kesan congkak, rasanya sepadan dengan tingkat sosial pria itu sendiri. Mr. Darcy berhak angkuh karena dia kaya raya. Pun keangkuhannya itu nyatanya tidak benar-benar menyakiti siapa pun. Tindakannya mencela keluarga Elizabeth tidak bisa dikategorikan sombong, karena sebagian besar yang dikatakannya adalah benar. Jika kemudian Mr. Darcy memperbaiki sikapnya, itu semata-mata tepat sesuai dugaan dari Mrs. Gardiner selama ini.

..yang dia perlukan hanya sedikit keceriaan, dan itu bisa didapatkannya dari istrinya, kalau dia menikahi perempuan yang tepat.

Mrs. Gardiner

Mr. Darcy bukannya sombong dari lahir. Ia hanya tak tahu bagaimana semestinya bergaul dengan lebih ramah. Itulah mengapa ia butuh Elizabeth untuk melengkapi hidupnya yang monoton. Memberi pengalaman baru dari yang semula hanya hitam putih. Memberi rasa pada hari-harinya agar lebih berwarna.

______________________________________________________________________________

This Post Has 18 Comments

  1. Wow, ini pertama kalinya aku nemu review buku yang bikin aku jadi tertarik buat beli buku yang direview itu. It’s amazing,dan kayaknya setelah mengunjungi blog ini, aku bakalan langsung beli buku pride and prejudiceπŸ˜†πŸ˜…

    1. wah.. yuk baca buku ini juga kak. Nanti jangan lupa bikin reviewnya juga dari sudut pandangmu ya kak πŸ™‚

  2. Aku juga pengen baca lengkapnya kalau gini karena aku suka juga genre kayak gini

    1. sipp.. silahkan dibaca bukunya ya..

  3. wah, nice review kak! ngasi insight baru buatku yang notabene lagi baca pride and prejudice.

    1. waah.. selamat membaca juga

  4. I love this!! Ini buku klasik pertama yang aku baca dan gegara ini aku jatuh cinta sama Jane Austen ❀️

    1. ah ini juga buku pertamaku baca Jane Austen. Tapi baru berani bikin review nya setelah baca yang ke 4 kali πŸ˜€ salam kenal ya!

  5. Aduhh makasiii kak, udah buat review buku secakeppp iniiih,, pasti masuk list buku aku nihh😍😍😍

  6. one of the best book that i’ve read. and agree with all ur opinionπŸ₯Ί! Also,i was watched Pride and Prejudice movie last night (again) lol. idk why,but it’s still soo satisfying altought i was watched it more and more,again and again.

    1. ah sama saya juga suka kalau baca dan nonton film ini berulang-ulang

  7. Waaaa, kereen banget reviewnya kak dan buat aku jadi penasaran untuk membaca buku ini..😍😍

  8. Jadi pengin baca novel klasik πŸ˜†

    1. yuk baca klasik juga

  9. Sebelumnya terima kasih sudah menulis ulasan keren ini,kakπŸ˜ŠπŸ™ beberapa kali saya membaca ulasan para kakak bookstagram tentang buku ini dan semakin yakin untuk mulai mengumpulkan rupiah agar bisa membeli bukunya. Ulasannya benar benar menarik,kakπŸ˜ŠπŸ™

    1. terima kasih sudah baca review saya πŸ˜€

  10. Salah satu karya Jane Austen yang pengen banget aku baca. Semoga nanti bisa kesempatan baca ini :’)

    1. amin!! semoga genrenya berjodoh sama kesukaan mu ya

Leave a Reply

Close Menu
%d bloggers like this: